Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Alasan Kelas Menengah Tetap Miskin sedangkan Kelas Atas Berkembang

ilustrasi uang (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi uang (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Intinya sih...
  • Kelas menengah mengandalkan gaji, kelas atas membangun kepemilikan.
  • Pendapatan tambahan langsung habis untuk konsumsi.
  • Utang digunakan untuk kebutuhan konsumtif.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kesenjangan ekonomi antara kelas menengah dan kelas atas masih menjadi persoalan yang terus dibahas di berbagai negara, termasuk di tengah kondisi ekonomi global yang semakin dinamis. Banyak orang dari kelas menengah memiliki penghasilan stabil, pekerjaan tetap, dan rutinitas kerja yang padat, tetapi kondisi finansialnya tidak menunjukkan perkembangan signifikan dari waktu ke waktu. Di sisi lain, kelompok kelas atas justru mampu memperluas aset, meningkatkan nilai kekayaan, dan menjaga stabilitas ekonomi mereka dalam jangka panjang.

Fenomena ini kemudian memunculkan pertanyaan besar tentang alasan mengapa kelas menengah tetap miskin sementara kelas atas berkembang. Dilansir New Trader U, perbedaan tersebut tidak selalu terletak pada besarnya pendapatan yang diterima setiap bulan, melainkan pada cara mengelola uang dan mengambil keputusan finansial. Berikut tujuh alasan yang dapat membantu memahami pola keuangan yang kerap membuat kelas menengah sulit naik kelas secara ekonomi.

1. Kelas menengah mengandalkan gaji, kelas atas membangun kepemilikan

ilustrasi uang (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
ilustrasi uang (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Sebagian besar kelas menengah memperoleh penghasilan utama dari gaji bulanan atau upah kerja yang bersifat aktif, sehingga stabilitas keuangan mereka sangat bergantung pada pekerjaan dan posisi di tempat kerja. Selama masih bekerja, pendapatan tetap mengalir, tetapi ketika terjadi gangguan karier, kondisi finansial pun ikut terpengaruh. Kenaikan penghasilan biasanya hanya terjadi melalui promosi jabatan atau penyesuaian gaji tahunan yang jumlahnya terbatas.

Berbeda dengan itu, kelas atas cenderung membangun kepemilikan aset sebagai sumber pendapatan jangka panjang. Mereka menanamkan modal pada bisnis, saham, atau properti yang mampu menghasilkan arus kas secara konsisten tanpa harus selalu terlibat langsung. Pendekatan ini membuat kekayaan dapat terus bertumbuh meski waktu dan tenaga pribadi tidak lagi menjadi faktor utama.

2. Pendapatan tambahan langsung habis untuk konsumsi

ilustrasi belanja (pexels.com/Max Fischer)
ilustrasi belanja (pexels.com/Max Fischer)

Ketika menerima bonus, insentif, atau kenaikan gaji, kelas menengah umumnya terdorong untuk meningkatkan kualitas hidup. Pengeluaran untuk kendaraan baru, gawai terkini, atau liburan sering dianggap sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras yang telah dilakukan. Tanpa perencanaan yang matang, kebiasaan ini membuat pendapatan tambahan cepat habis dan tidak meninggalkan nilai finansial jangka panjang.

Sebaliknya, kelas atas biasanya memiliki pola pikir yang berbeda dalam menyikapi uang ekstra. Mereka lebih dahulu mengalokasikan pendapatan tambahan ke instrumen investasi sebelum meningkatkan gaya hidup. Dengan cara ini, konsumsi tidak menghambat pertumbuhan aset, melainkan berjalan seiring dengan peningkatan kekayaan.

3. Utang digunakan untuk kebutuhan konsumtif

ilustrasi utang (freepik.com/rawpixel.com)
ilustrasi utang (freepik.com/rawpixel.com)

Dalam kehidupan sehari-hari, kelas menengah kerap memanfaatkan utang untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan konsumtif. Cicilan kendaraan, perabot rumah tangga, dan barang elektronik menjadi bagian rutin dari pengeluaran bulanan. Masalahnya, sebagian besar barang tersebut mengalami penurunan nilai seiring waktu, sementara beban bunga tetap harus dibayar.

Di sisi lain, kelas atas memanfaatkan utang secara lebih strategis dan terencana. Pinjaman digunakan untuk memperoleh aset produktif yang mampu menghasilkan pendapatan atau mengalami kenaikan nilai. Dengan pendekatan ini, utang tidak sekadar menjadi beban, melainkan alat untuk mempercepat pertumbuhan kekayaan secara berkelanjutan.

4. Kenyamanan jangka pendek lebih diprioritaskan

ilustrasi uang (pexels.com/Aukid phumsirichat)
ilustrasi uang (pexels.com/Aukid phumsirichat)

Dalam mengambil keputusan keuangan, kelas menengah sering kali berfokus pada kemampuan membayar cicilan bulanan dan menjaga kenyamanan saat ini. Selama pengeluaran terasa aman bagi anggaran jangka pendek, keputusan tersebut dianggap tidak bermasalah. Namun, pendekatan ini kerap mengabaikan dampak jangka panjang terhadap kondisi finansial secara keseluruhan.

Kelas atas cenderung menilai keputusan keuangan dari perspektif waktu dan potensi pertumbuhan. Mereka mempertimbangkan bagaimana suatu pilihan akan berdampak dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. Pilihan yang mungkin terasa kurang nyaman di awal justru sering memberikan keuntungan yang jauh lebih besar di masa depan.

5. Literasi keuangan belum menjadi kebiasaan

ilustrasi belajar (pexels.com/George Pak)
ilustrasi belajar (pexels.com/George Pak)

Sebagian besar kelas menengah hanya memahami pengelolaan keuangan pada tingkat dasar, seperti mengatur pengeluaran rutin dan menabung. Pengetahuan tentang investasi, pajak, dan pengembangan aset sering kali dianggap rumit atau tidak mendesak. Akibatnya, banyak peluang finansial yang tidak dimanfaatkan secara optimal.

Sebaliknya, kelas atas menjadikan literasi keuangan sebagai bagian penting dari pengembangan diri. Mereka aktif mempelajari berbagai instrumen investasi, strategi pajak, serta struktur bisnis yang legal. Pengetahuan ini memberi mereka keunggulan dalam mengambil keputusan finansial yang lebih efektif.

6. Pajak diterima tanpa perencanaan

ilustrasi pajak (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)
ilustrasi pajak (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Pendapatan kelas menengah umumnya sudah dipotong pajak sebelum diterima, sehingga mereka cenderung menerima kondisi tersebut apa adanya. Minimnya pemahaman membuat strategi optimalisasi pajak yang sah jarang dimanfaatkan. Dalam jangka panjang, hal ini mengurangi potensi dana yang dapat dialokasikan untuk investasi.

Kelas atas memiliki pendekatan yang lebih strategis dalam mengelola pajak. Mereka memanfaatkan badan usaha dan instrumen keuangan yang legal untuk mengatur kewajiban pajak secara efisien. Selisih pendekatan ini dapat berdampak besar terhadap akumulasi kekayaan sepanjang hidup.

7. Menghindari risiko demi rasa aman

ilustrasi investasi (pexels.com/Anna Nekrashevich)
ilustrasi investasi (pexels.com/Anna Nekrashevich)

Banyak kelas menengah memilih menyimpan uang di tempat yang dianggap paling aman karena takut mengalami kerugian. Sikap ini memang memberikan rasa tenang dalam jangka pendek. Namun, tanpa disadari, nilai uang dapat terus tergerus oleh inflasi.

Kelas atas memahami bahwa risiko merupakan bagian tak terpisahkan dari pertumbuhan finansial. Mereka mengambil risiko yang terukur dengan perhitungan matang dan diversifikasi yang tepat. Pendekatan ini membuka peluang keuntungan yang lebih besar dalam jangka panjang.

Alasan mengapa kelas menengah tetap miskin sementara kelas atas berkembang tidak semata soal latar belakang, pendidikan, atau keberuntungan. Perbedaan utamanya terletak pada kebiasaan, pola pikir, dan keputusan finansial yang dijalani secara konsisten dari waktu ke waktu. Dengan meningkatkan literasi keuangan dan mengubah cara mengelola uang, peluang untuk memperbaiki arah kondisi finansial tetap terbuka bagi siapa pun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More

Pemerintah Perpanjang Kewenangan Sertifikasi Kapal ke BKI

13 Jan 2026, 18:31 WIBBusiness