Ilustrasi belanja impulsif (pexels.com/ Alexandra Maria)
Rasa lapar membuat kontrol diri melemah karena tubuh lebih fokus pada kebutuhan dasar. Pikiran menjadi kurang rasional saat menilai apakah suatu barang benar-benar penting atau hanya menarik sesaat. Situasi ini menciptakan kondisi ideal bagi terjadinya belanja impulsif. Kamu bisa dengan mudah mengeluarkan uang hanya karena tergoda diskon atau tampilan produk.
Alison Jing Xu menjelaskan bahwa episode lapar ringan sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat melewatkan sarapan atau bekerja melewati jam makan siang. Kebiasaan tersebut berpotensi memicu pembelian tak terencana, terutama untuk barang non-makanan. Tanpa disadari, kartu debit atau kartu kredit lebih sering digunakan untuk hal-hal yang gak masuk daftar kebutuhan. Jika dibiarkan, pola ini bisa membentuk perilaku konsumtif jangka panjang.
Belanja dalam keadaan lapar bukan hanya soal membeli makanan lebih banyak, tapi juga memengaruhi keputusan membeli barang non-makanan. Penelitian menunjukkan bahwa rasa lapar dapat meningkatkan dorongan memiliki barang, memperbesar pengeluaran, serta memicu belanja impulsif. Kondisi ini berisiko merusak pengelolaan keuangan jika terjadi terus-menerus.
Cara paling sederhana untuk menghindarinya adalah makan terlebih dahulu atau membawa camilan ringan sebelum pergi belanja. Dengan perut kenyang dan pikiran lebih tenang, kamu bisa berbelanja secara rasional sesuai kebutuhan, bukan sekadar mengikuti dorongan sesaat.