Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Harga Emas Sempat Turun saat Konflik Iran Memanas? Ini Sebabnya
ilustrasi emas (vecteezy.com/fabregov)
  • Harga emas sempat turun meski konflik Iran memanas karena penguatan dolar AS membuat logam mulia terasa lebih mahal bagi pembeli di luar Amerika Serikat.
  • Banyak investor menjual emas untuk memenuhi kebutuhan likuiditas saat pasar bergejolak, sehingga tekanan jual ikut menekan harga meskipun emas dianggap aset aman.
  • Ekspektasi suku bunga The Fed yang tetap tinggi serta dinamika perdagangan global turut memperumit pergerakan harga emas di tengah ketegangan geopolitik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ketika konflik geopolitik memanas, banyak orang biasanya langsung berpikir satu hal: harga emas pasti naik. Logika tersebut memang cukup masuk akal karena emas dikenal sebagai aset safe haven atau tempat berlindung saat kondisi global gak stabil. Situasi memanas di Timur Tengah, termasuk ketegangan yang melibatkan Iran, biasanya membuat investor buru-buru membeli emas.

Akan tetapi, realitas pasar beberapa waktu terakhir justru menunjukkan hal yang berbeda. Harga emas sempat melemah walaupun ketegangan geopolitik meningkat. Kalau kamu penasaran kenapa hal ini bisa terjadi, beberapa faktor berikut bisa membantu menjelaskan situasinya.

1. Kuatnya dolar AS menekan harga emas

ilustrasi mata uang dolar Amerika (pexels.com/Karolina Grabowska www.kaboompics.com)

Salah satu faktor terbesar datang dari pergerakan mata uang global, terutama dolar Amerika Serikat. Ketika dolar menguat, harga emas biasanya menghadapi tekanan. Morgan Stanley, bank investasi global asal Amerika Serikat, menjelaskan bahwa kekuatan dolar sering menjadi penghambat utama kenaikan harga logam mulia.

Amy Gower, analis strategi komoditas di Morgan Stanley yang memimpin tim riset terkait pasar emas, menjelaskan bahwa ketidakpastian geopolitik memang biasanya mendukung aset safe haven. Namun situasi kali ini menjadi lebih kompleks karena penguatan dolar membuat harga emas terasa lebih mahal bagi pembeli di luar Amerika Serikat. Kondisi tersebut akhirnya menekan permintaan global dalam jangka pendek.

Efeknya cukup signifikan karena emas diperdagangkan menggunakan dolar di pasar internasional. Ketika nilai dolar naik, investor dari negara lain harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli emas. Minat beli pun bisa menurun walaupun situasi geopolitik sedang tegang.

2. Investor butuh likuiditas saat pasar bergejolak

ilustrasi mata uang rupiah (pixabay.com/IqbalStock)

Alasan lain yang cukup menarik berkaitan dengan kebutuhan likuiditas investor. Ketika pasar keuangan mengalami tekanan, banyak investor memilih menjual sebagian aset mereka untuk mengumpulkan uang tunai. Emas pun sering ikut dijual walaupun sebenarnya dianggap aset aman.

Strategis Morgan Stanley menjelaskan, pelemahan harga emas belakangan kemungkinan besar terjadi karena investor membutuhkan dana cepat. Dalam situasi pasar yang gak stabil, kebutuhan likuiditas sering menjadi prioritas utama dibanding mempertahankan aset investasi jangka panjang. Kondisi seperti ini membuat emas ikut dijual meskipun sebenarnya masih dianggap sebagai aset aman.

Fenomena ini cukup umum terjadi saat volatilitas pasar meningkat. Investor menjual berbagai jenis aset untuk menutup kerugian di tempat lain atau menjaga cadangan kas. Akibatnya, harga emas bisa ikut turun meskipun kondisi global sedang penuh ketidakpastian.

3. Ekspektasi suku bunga The Fed ikut memengaruhi

ilustrasi emas (freepik.com/wirestock)

Faktor berikutnya datang dari kebijakan moneter Amerika Serikat, khususnya ekspektasi terhadap suku bunga bank sentral atau Federal Reserve. Perubahan perkiraan kebijakan suku bunga bisa memengaruhi pergerakan harga emas secara signifikan.

Ketika pasar memperkirakan suku bunga tetap tinggi atau turun lebih lambat dari harapan, emas cenderung kurang menarik bagi sebagian investor. Alasannya cukup sederhana, yakni aset berbunga seperti obligasi menjadi lebih menarik karena memberikan imbal hasil yang lebih jelas.

Tim analis Morgan Stanley menjelaskan, berbagai faktor makro seperti kebijakan suku bunga, pergerakan mata uang, serta risiko geopolitik sedang bekerja secara bersamaan. Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat pergerakan harga emas menjadi lebih kompleks dibanding biasanya. Situasi ini membuat harga emas gak selalu langsung naik meskipun ketegangan global sedang meningkat.

4. Perdagangan emas global ikut memengaruhi harga

ilustrasi logam emas (pexels.com/Michael Steinberg)

Selain faktor makro, aliran perdagangan emas global juga memainkan peran penting. Aktivitas perdagangan bullion internasional dapat mempengaruhi keseimbangan antara permintaan dan pasokan.

Morgan Stanley menyoroti, Dubai menjadi salah satu pusat perdagangan emas terbesar di dunia. Sekitar 20 persen aliran emas global melewati kota tersebut, menjadikannya eksportir bullion terbesar kedua setelah Swiss. Aktivitas perdagangan di kawasan ini memiliki dampak besar terhadap harga emas internasional.

Bank tersebut juga mencatat, bank sentral di kawasan Timur Tengah cukup aktif membeli emas. Pada 2022 saja, bank sentral di wilayah tersebut membeli sekitar 90 ton emas dari total sekitar 400 ton pembelian bersih bank sentral global. Arus pembelian seperti ini berpotensi mendukung harga emas dalam jangka panjang.

Pergerakan harga emas ternyata gak selalu mengikuti logika sederhana, konflik geopolitik pasti membuatnya naik. Realitas pasar menunjukkan, banyak faktor bekerja secara bersamaan, mulai dari kekuatan dolar, kebutuhan likuiditas investor, ekspektasi suku bunga, hingga dinamika perdagangan global.

Situasi seperti ini membuat harga emas bisa bergerak naik atau turun dalam jangka pendek. Banyak analis percaya pelemahan tersebut kemungkinan hanya bersifat sementara apabila ketegangan geopolitik terus berlanjut. Investor biasanya kembali melirik emas ketika kondisi pasar semakin tak pasti.

Pemahaman terhadap berbagai faktor ini penting supaya kamu gak terburu-buru mengambil kesimpulan saat melihat pergerakan harga emas. Pasar keuangan sering bergerak dengan logika yang lebih kompleks dari sekadar satu peristiwa global saja.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team