Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Metode Mengelola THR supaya Keuangan Tetap Aman setelah Lebaran
ilustrasi uang rupiah (pixabay.com/Iqbal Nuril Anwar)
  • Artikel menyoroti pentingnya mengelola THR dengan perencanaan matang agar tidak habis untuk pengeluaran konsumtif dan bisa memperkuat kondisi keuangan setelah Lebaran.
  • Diperkenalkan berbagai metode pengelolaan seperti 50-30-20, Pay Yourself First, 40-30-20-10, 70-20-10, hingga 10-20-60-10 yang membantu membagi dana secara proporsional.
  • Setiap metode menawarkan cara berbeda dalam mengatur kebutuhan, tabungan, utang, dan donasi agar THR tetap bermanfaat serta menjaga stabilitas finansial jangka panjang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Menjelang Lebaran, Tunjangan Hari Raya (THR) selalu menjadi pemasukan tambahan yang paling dinantikan banyak orang di Indonesia. Dana ini biasanya digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari belanja kebutuhan Lebaran, mudik, hingga berbagi dengan keluarga. Namun, tanpa perencanaan yang jelas, THR sering kali habis hanya dalam beberapa hari karena terserap oleh pengeluaran konsumtif.

Padahal, THR juga bisa dimanfaatkan untuk memperkuat kondisi keuangan, seperti menabung atau melunasi utang. Karena itu, penting bagi kamu memahami strategi pengelolaan uang yang sederhana tetapi efektif. Salah satu cara yang bisa dicoba adalah menerapkan beberapa metode mengelola THR berikut agar uang tidak habis begitu saja.

1. Metode 50-30-20 membantu membagi THR secara seimbang

ilustrasi uang (pixabay.com/Iqbal Nuril Anwar)

Metode 50-30-20 merupakan salah satu metode pengelolaan keuangan yang paling populer. Konsep ini diperkenalkan oleh profesor hukum Harvard sekaligus senator Amerika Serikat, Elizabeth Warren, melalui buku All Your Worth: The Ultimate Lifetime Money Plan. Dalam metode ini, pendapatan dibagi menjadi tiga kategori utama, yaitu kebutuhan pokok, keinginan, dan tabungan atau pembayaran utang.

Jika diterapkan pada THR, kamu bisa mengalokasikan sekitar 50 persen untuk kebutuhan utama seperti belanja Lebaran, transportasi mudik, atau kebutuhan rumah tangga. Kemudian 30 persen digunakan untuk keinginan, misalnya membeli pakaian baru, makan bersama keluarga, atau hiburan. Sementara itu, 20 persen sisanya dapat disisihkan untuk tabungan, investasi, atau melunasi utang agar kondisi keuangan tetap stabil setelah Lebaran.

2. Pay Yourself First memprioritaskan tabungan sejak awal

Potret uang rupiah (pexels.com/Ahsanjaya)

Metode Pay Yourself First memiliki prinsip sederhana, yaitu menyisihkan uang untuk diri sendiri terlebih dahulu sebelum digunakan untuk pengeluaran lain. Dalam praktiknya, menabung dianggap sebagai kewajiban utama, bukan sisa dari uang setelah belanja. Cara ini banyak direkomendasikan oleh perencana keuangan karena membantu seseorang lebih disiplin dalam mengelola uang.

Ketika menerima THR, kamu bisa langsung memindahkan sebagian dana ke rekening tabungan atau instrumen investasi. Banyak ahli keuangan menyarankan alokasi sekitar 10 hingga 20 persen dari pendapatan untuk ditabung sejak awal. Dengan begitu, risiko menghabiskan seluruh THR untuk kebutuhan konsumtif bisa diminimalkan dan kamu tetap memiliki dana untuk tujuan finansial jangka panjang.

3. Metode 40-30-20-10 menjaga keseimbangan pengeluaran

ilustrasi uang rupiah (pixabay.com/Sewupari Studio)

Metode 40-30-20-10 atau yang dikenal juga sebagai aturan 4-3-2-1 membagi pendapatan ke dalam empat kategori utama. Dalam metode ini, sekitar 40 persen dana digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti makanan, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga. Pendekatan ini membantu memastikan kebutuhan dasar tetap terpenuhi tanpa mengorbankan pos keuangan lainnya.

Selanjutnya, sekitar 30 persen dialokasikan untuk kewajiban finansial seperti cicilan atau utang. Sementara itu, 20 persen digunakan untuk tabungan atau investasi guna mempersiapkan masa depan. Adapun 10 persen sisanya dapat digunakan untuk donasi atau kegiatan sosial seperti zakat dan sedekah, yang juga menjadi bagian penting dari tradisi berbagi saat Lebaran.

4. Metode 70-20-10 memberi ruang lebih besar untuk kebutuhan

ilustrasi uang rupiah (pexels.com/bangunstockproduction)

Metode 70-20-10 termasuk strategi pengelolaan keuangan yang cukup fleksibel. Dalam metode ini, sekitar 70 persen pendapatan dialokasikan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari. Pendekatan ini cocok bagi kamu yang memiliki banyak pengeluaran saat Lebaran, seperti biaya mudik, membeli hampers, atau menyiapkan hidangan untuk keluarga.

Kemudian 20 persen dari THR dapat disisihkan untuk tabungan atau investasi. Dana ini bisa digunakan untuk membangun dana darurat atau merencanakan tujuan finansial lainnya. Sementara itu, 10 persen sisanya dapat digunakan untuk membayar utang atau kebutuhan finansial tertentu agar kondisi keuangan tetap terkendali setelah momen Lebaran berakhir.

5. Metode 10-20-60-10 membantu mengatur THR lebih terencana

ilustrasi uang (freepik.com/freepik)

Metode 10-20-60-10 menjadi salah satu strategi yang sering direkomendasikan untuk mengatur THR secara lebih terarah. Dalam metode ini, sekitar 10 persen dana dialokasikan untuk zakat, sedekah, atau kegiatan sosial. Cara ini membantu kamu tetap berbagi dengan orang lain sekaligus menjalankan kewajiban sosial saat Hari Raya.

Selanjutnya, sekitar 20 persen dana digunakan untuk tabungan, investasi, atau melunasi utang agar kondisi keuangan tetap sehat. Sebanyak 60 persen bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan Lebaran seperti mudik, belanja, atau persiapan makanan khas hari raya. Sementara itu, 10 persen terakhir sebaiknya disimpan sebagai dana darurat agar kamu tetap memiliki cadangan jika muncul kebutuhan tak terduga setelah Lebaran.

Mengatur THR dengan bijak sebenarnya tidak harus rumit selama kamu memiliki rencana yang jelas sejak awal. Berbagai metode mengelola THR di atas dapat membantu kamu membagi dana secara lebih terstruktur sesuai kebutuhan. Dengan strategi yang tepat, THR tidak hanya habis untuk belanja Lebaran, tetapi juga bisa mendukung kesehatan finansial dalam jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team