Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi chatgpt (freepik.com)
Ilustrasi chatgpt (freepik.com)

Intinya sih...

  • ChatGPT tidak mampu memprediksi saham secara akurat karena kurangnya intuisi dan insting pasar manusia.

  • ChatGPT dapat digunakan sebagai asisten analisis untuk membantu investor bekerja lebih efisien dan terstruktur.

  • AI seperti ChatGPT bisa dimanfaatkan untuk mengevaluasi strategi investasi, melakukan simulasi "what-if", serta membantu perencanaan pensiun.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT kini makin sering dipakai di dunia keuangan. Namun, jangan berharap AI bisa “menebak” saham mana yang bakal meroket tajam. Faktanya, bahkan investor manusia pun kesulitan memprediksi pasar secara konsisten. Apalagi AI yang hanya mengandalkan pola data dan informasi publik.

Meski begitu, ChatGPT tetap bisa jadi alat bantu cerdas untuk mengelola strategi investasimu asalkan digunakan dengan tepat. Model AI berbasis bahasa (LLM) tidak memiliki intuisi, insting pasar, maupun pemahaman konteks sedalam manusia saat membaca sentimen pasar.

Artinya, AI bukanlah peramal saham. Namun, jika dimanfaatkan sebagai asisten analisis, ChatGPT bisa membantu investor bekerja lebih efisien dan terstruktur.

1. ChatGPT bisa jadi “asisten broker”

Ilustrasi menggunakan AI untuk investasi (freepik.com)

Menurut Michael Martin, VP of Market Strategy di TradingBlock.com, AI generatif sangat berguna untuk mendukung hipotesis investor, tetapi kecerdasannya berasal dari pengetahuan manusia yang sudah dipublikasikan. ChatGPT tidak bisa menggantikan peran pialang saham atau penasihat keuangan, namun bisa melengkapi proses analisis investasi.

Beberapa kegunaan praktis ChatGPT untuk investor antara lain:

  • Membandingkan portofolio dengan berbagai benchmark pasar.

  • Menjalankan simulasi “what-if”, misalnya dampak krisis ekonomi, resesi, atau kenaikan suku bunga.

  • Merangkum berita keuangan kompleks agar investor cepat menangkap isu penting yang memengaruhi aset mereka.

2. ChatGPT bisa dimanfaatkan sebagai alat evaluasi

ilustrasi saham likuid dan fundamental baik (pexels.com/hanna pad)

ChatGPT bisa dimanfaatkan untuk mengevaluasi apakah strategi investasimu masih berada di jalur yang tepat dengan tujuan keuangan jangka panjang. Dengan memasukkan asumsi imbal hasil, proyeksi inflasi, skenario suku bunga, serta komposisi aset (saham, obligasi, reksa dana, kripto, dan lainnya), investor dapat melihat bagaimana perubahan kecil—misalnya menaikkan porsi saham 5 persen atau menambah kontribusi bulanan—dapat berdampak besar pada nilai akhir portofolio. Simulasi seperti ini membantumu mengambil keputusan yang lebih terukur, bukan sekadar berdasarkan perasaan.

Alih-alih meminta rekomendasi saham “panas”, AI lebih tepat digunakan sebagai alat untuk menguji asumsi. ChatGPT dapat membantu mengidentifikasi potensi bias kognitif, celah perencanaan, atau risiko yang mungkin luput diperhatikan—misalnya terlalu optimistis terhadap return, mengabaikan risiko penurunan pasar, atau tidak memperhitungkan kebutuhan likuiditas jangka pendek. Dengan sudut pandang netral, AI bisa menjadi cermin untuk menantang keyakinanmu sendiri sebelum mengambil keputusan besar.

3. Alat bantu perencanaan pensiun

Ilustrasi pensiun (freepik.com)

Untuk perencanaan anggaran dan dana pensiun, ChatGPT dapat membantu melakukan simulasi sederhana berbasis asumsi pertumbuhan aset, kontribusi tahunan, serta estimasi kebutuhan pengeluaran saat pensiun. Hasil perhitungan ini memberi gambaran kasar tentang kapan target pensiun realistis dapat tercapai, sekaligus menunjukkan gap yang perlu ditutup (misalnya dengan meningkatkan tabungan atau menyesuaikan gaya hidup). Meski demikian, angka-angka ini tetap perlu diverifikasi dan disesuaikan dengan kondisi riil bersama penasihat profesional.

Penting diingat, ChatGPT hanyalah alat bantu, bukan pengganti nasihat finansial profesional. AI tidak memahami kondisi pajak pribadimu secara detail, strategi warisan, dinamika keluarga, atau toleransi risiko emosional terhadap volatilitas pasar. Mengikuti saran AI tanpa verifikasi dapat berujung pada keputusan yang tidak selaras dengan situasi hidupmu—dan berpotensi merugikan dalam jangka panjang.

4. AI sebagai “second opinion”

Ilustrasi menggunakan AI untuk investasi (freepik.com)

Sebagai opini kedua, AI bisa membantu menjelaskan istilah keuangan yang rumit, merangkum kelebihan dan kekurangan suatu strategi, serta membantu menyusun daftar pertanyaan yang lebih tajam sebelum bertemu penasihat keuangan. Pendekatan ini meningkatkan literasi finansial dan membuatmu lebih percaya diri saat berdiskusi—bukan sekadar menerima saran mentah-mentah.

Nasihat dari AI bersifat umum dan tidak personal. AI tidak dapat menilai situasi pajak spesifik, kondisi pasangan, tanggungan keluarga, atau bagaimana kamu bereaksi secara emosional saat pasar bergejolak. Mengandalkan AI sepenuhnya untuk keputusan investasi ibarat mempertaruhkan masa depan finansial pada kalkulasi generik.

Pada akhirnya, manfaatkan ChatGPT sebagai co-pilot—bukan pilot utama. Biarkan AI membantumu berpikir lebih terstruktur, menguji skenario, dan memperluas perspektif, tetapi keputusan akhir tetap perlu ditopang oleh pemahaman personal, data yang relevan, serta nasihat profesional. Kombinasi teknologi dan kebijaksanaan manusia adalah strategi paling masuk akal untuk membangun keuangan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team