Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pasar Saham Merah, Momentum atau Jebakan? Ini Strateginya
Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
  • IHSG dan LQ45 kompak melemah akibat gejolak global, mencerminkan volatilitas pasar yang tinggi dan membuat investor perlu lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
  • Investor disarankan fokus pada saham dengan fundamental kuat serta menerapkan strategi dollar cost averaging agar bisa berinvestasi secara bertahap tanpa harus menebak waktu terbaik membeli.
  • Analisis teknikal, pemantauan sentimen pasar, dan penggunaan dana khusus investasi menjadi kunci untuk menghindari jebakan beli di harga tinggi serta menjaga stabilitas keuangan pribadi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan volatilitas akibat gejolak global. Pada penutupan perdagangan Senin (11/5/2026), IHSG terkoreksi 63,78 poin atau 0,92 persen ke level 6.905,62. Sejalan dengan itu, indeks LQ45 juga melemah 1,27 persen dan ditutup di posisi 668,63.

Dilansir dari laman Brights, dalam dunia investasi saham, kondisi pasar yang sedang melemah sering kali dianggap menakutkan bagi investor pemula. Namun, bagi investor berpengalaman, penurunan harga saham justru menjadi momentum untuk mengoleksi saham-saham berkualitas dengan harga lebih murah.

Lalu, bagaimana strategi yang tepat agar tidak terjebak membeli saham yang terus merosot?

1. Pilih saham dengan fundamental kuat

Jurnalis mengambil gambar layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)

Fokuslah pada saham perusahaan yang memiliki:

  • Laba bersih yang konsisten

  • Neraca keuangan yang sehat, dengan utang terkendali dan aset yang terus tumbuh

  • Model bisnis yang stabil serta tahan terhadap tekanan krisis

  • Manajemen yang kredibel dan transparan

Saham dari sektor perbankan, consumer goods, dan energi kerap menjadi pilihan saat pasar melemah karena dinilai memiliki fundamental dan daya tahan yang lebih kuat.

2. Gunakan strategi dollar cost averaging (DCA)

ilustrasi membeli saham saat IHSG melemah (pexels.com/rdne stock project)

Kamu bisa menggunakan strategi dollar cost averaging (DCA) dalam investasi. DCA adalah strategi investasi secara bertahap dengan nominal yang sama dalam periode waktu tertentu, tanpa memperhatikan kondisi pasar.

Dengan strategi ini, kamu tidak perlu menebak kapan harga terendah terjadi karena rata-rata harga beli akan otomatis menyesuaikan pasar.

3. Analisis teknikal sebagai pendukung

Ilustrasi penguatan IHSG. (IDN Times/Muhammad Surya)

Selain analisis fundamental, gunakan alat bantu teknikal seperti:

  • Relative Strength Index (RSI): Jika RSI di bawah 30, bisa menandakan kondisi oversold

  • Moving Average: Bandingkan harga saat ini dengan MA20 atau MA50 untuk melihat tren jangka pendek

  • Support dan resistance: Amati titik-titik harga yang menjadi area psikologis penting

Analisis teknikal akan membantu kamu menghindari beli di harga yang masih berpotensi turun lebih jauh.

4. Amati sentimen pasar

ilustrasi IHSG (IDN Times/Muhammad Surya)

Sentimen pasar sangat mempengaruhi pergerakan harga jangka pendek. Ketika terjadi panic selling, saham berkualitas pun bisa ikut turun.

Investor yang tenang dan mampu mengidentifikasi perusahaan bagus di tengah kekacauan justru akan mendapat peluang terbaik.

5. Gunakan dana khusus, bukan dana darurat

ilustrasi pergerakan IHSG (IDN Times/Aditya Pratama)

Investasi saham tetap memiliki risiko sehingga penting untuk menggunakan dana khusus investasi, bukan dana kebutuhan sehari-hari maupun dana darurat.

Dengan begitu, kondisi keuangan tetap aman. Selain itu, kamu juga tidak terbebani secara finansial ketika pasar mengalami fluktuasi.

Editorial Team