ilustrasi perang (unsplash.com/Kevin Schmid)
Petrodollar tidak selalu membawa dampak positif. Di satu sisi, reinvestasi pendapatan minyak ke dalam aset keuangan global atau program pembangunan dalam negeri memang menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sosial. Di sisi lain, ada kekhawatiran serius bahwa petrodollar turut membiayai pelanggaran hak asasi manusia dan konflik bersenjata di berbagai penjuru dunia.
Dua peristiwa besar menjadi sorotan tajam dalam konteks ini. Pertama, pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, warga AS asal Arab Saudi, oleh agen-agen negara Saudi di Konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada Oktober 2018 yang merupakan sebuah tindakan yang memicu kecaman internasional luas. Kedua, invasi Rusia ke Ukraina yang dimulai pada Februari 2022, yang mendorong AS dan sekutunya memberlakukan sanksi ekonomi besar-besaran terhadap Moskow.
Kedua peristiwa ini memunculkan pertanyaan serius apakah kekayaan minyak yang mengalir dalam bentuk petrodolar justru membuat pemimpin negara-negara tersebut merasa kebal dari tekanan internasional? Meski demikian, sanksi terhadap Rusia justru menunjukkan batas nyata dari upaya de-dolarisasi, karena negara-negara lain tidak serta-merta ingin mengikuti jejak Moskow dalam meninggalkan dolar AS.
Sistem yang lahir dari diplomasi minyak era 1970-an ini terbukti jauh lebih tangguh dari yang banyak orang perkirakan. Selama tidak ada mata uang lain yang mampu menandingi likuiditas dan kepercayaan global terhadap dolar AS, petrodollar adalah fondasi yang akan terus menopang perdagangan energi dunia untuk waktu yang sangat panjang. Kamu kini punya gambaran yang lebih utuh tentang bagaimana sebuah kesepakatan diplomatik bisa membentuk tatanan ekonomi global selama lebih dari setengah abad.