ilustrasi mata uang rupiah (pexels.com/Robert Lens)
Banyak analis mulai memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah lebih jauh. Dalam skenario dasar, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.550 sampai Rp17.700 per dolar AS. Namun jika konflik Timur Tengah makin memburuk dan harga minyak melonjak di atas 120 dolar AS atau sekitar Rp1,95 juta per barel, rupiah berpotensi menembus Rp18.000 hingga Rp18.300 per dolar AS.
Meski terdengar mengkhawatirkan, kondisi sekarang belum bisa disamakan dengan krisis moneter 1998. Sistem perbankan Indonesia saat ini jauh lebih sehat dengan pengawasan yang lebih ketat. Pemerintah dan Bank Indonesia juga masih memiliki berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Namun tantangan terbesar sebenarnya adalah menjaga kepercayaan pasar. Investor ingin melihat kebijakan ekonomi yang transparan, disiplin fiskal, dan langkah nyata untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi. Jika reformasi berjalan lambat, tekanan terhadap rupiah kemungkinan masih akan terus berlangsung dalam jangka menengah.
Pelemahan rupiah kali ini memang jadi alarm serius bagi ekonomi Indonesia. Faktor global memang punya pengaruh besar, tapi kondisi dalam negeri juga ikut menentukan seberapa kuat rupiah mampu bertahan. Selama ketergantungan impor energi masih tinggi dan kepercayaan investor belum pulih sepenuhnya, tekanan terhadap rupiah kemungkinan belum akan cepat hilang.
Meski begitu, situasi sekarang tetap berbeda dibanding krisis besar di masa lalu karena fondasi perbankan Indonesia jauh lebih siap. Ke depan, langkah pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga kepercayaan pasar bakal jadi penentu utama apakah rupiah bisa stabil lagi atau justru terus melemah.