Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
4 Sektor Saham yang Sebaiknya Dijauhi Pensiunan saat Perang Iran
Cuplikan video ini, yang diambil dari gambar UGC yang diposting di media sosial pada 28 Februari 2026 dan diverifikasi oleh tim AFPTV di Paris, menunjukkan orang-orang memeriksa kerusakan di lokasi dampak setelah serangan AS dan Israel di Teheran, Iran. (VARIOUS SOURCES/AFP)
  • Ketegangan geopolitik di Iran pada 2026 mengguncang pasar global dan meningkatkan volatilitas saham, membuat investor pensiunan perlu lebih berhati-hati dalam mengelola portofolio mereka.
  • Sektor energi, maskapai penerbangan, pariwisata, serta asuransi properti menjadi yang paling rentan terhadap dampak konflik karena fluktuasi harga energi, penurunan perjalanan, dan potensi klaim besar.
  • Pakar menekankan pentingnya diversifikasi dan evaluasi ulang investasi bagi pensiunan agar risiko kerugian permanen akibat kewajiban penarikan dana saat pasar turun dapat diminimalkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ketegangan geopolitik di Iran kembali mengguncang pasar keuangan global pada 2026. Konflik ini menambah volatilitas di pasar saham yang memang sudah tidak stabil sejak awal tahun. Dalam situasi seperti ini, investor perlu lebih berhati-hati dalam menentukan alokasi investasi mereka.

Risiko tersebut menjadi jauh lebih besar bagi investor yang sudah pensiun. Tidak seperti investor muda yang masih memiliki waktu panjang untuk memulihkan kerugian, para pensiunan memiliki ruang kesalahan yang jauh lebih kecil ketika pasar mengalami fluktuasi tajam.

Karena itu, memahami sektor mana yang berpotensi berisiko selama konflik geopolitik menjadi hal penting. Berikut beberapa sektor saham yang dinilai lebih rentan dan mungkin perlu dipertimbangkan kembali oleh investor pensiunan.

1. Sektor energi: Minyak dan gas

Ilustrasi perusahaan minyak dan gas (freepik.com)

Sektor energi menjadi salah satu yang paling sensitif terhadap konflik di Timur Tengah. Kawasan ini memiliki peran besar dalam pasokan minyak dunia, sehingga setiap ketegangan militer dapat memicu fluktuasi tajam pada harga energi. Akibatnya, saham perusahaan minyak, gas, dan energi lainnya mengalami volatilitas yang tinggi sejak konflik dimulai.

Menurut pakar pajak dan hukum Chad Cummings dari Cummings & Cummings Law, investor pensiunan biasanya tidak memiliki waktu yang cukup untuk menunggu pasar kembali stabil. Selain itu, aturan pajak di United States mewajibkan individu berusia 73 tahun ke atas untuk melakukan Required Minimum Distribution (RMD) dari akun pensiun mereka. Artinya, investor tetap harus menarik dana meskipun pasar sedang turun.

Jika penarikan dilakukan ketika saham sedang mengalami penurunan sekitar 15% hingga 20%, kerugian tersebut akan menjadi permanen pada dana yang ditarik. Bahkan, jika gagal memenuhi kewajiban RMD, investor dapat dikenakan pajak tambahan hingga 25 persen.

2. Saham maskapai dan transportasi

Pesawat Boeing (boeing.com)

Industri penerbangan juga terdampak signifikan oleh konflik di Timur Tengah. Pembatasan atau penutupan jalur udara di kawasan tersebut memicu kekhawatiran terhadap penurunan pendapatan maskapai global.

Beberapa maskapai besar seperti Delta Air Lines, United Airlines, dan American Airlines mengalami tekanan pada harga saham mereka akibat penurunan aktivitas perjalanan.

Selain itu, kenaikan harga bahan bakar juga memperburuk kondisi industri ini. Harga jet fuel biasanya mengikuti pergerakan diesel yang dapat melonjak tajam dalam waktu singkat.

Masalah lainnya adalah sebagian besar maskapai hanya melakukan lindung nilai (hedging) bahan bakar secara terbatas. Hal ini membuat profit perusahaan lebih rentan terhadap lonjakan harga energi.

3. Sektor perhotelan dan pariwisata

Ilustrasi hotel (freepik.com)

Sektor perjalanan tidak hanya mencakup maskapai penerbangan. Perusahaan perhotelan dan operator wisata juga merasakan dampak negatif dari konflik geopolitik. Ketidakpastian keamanan di kawasan Timur Tengah dapat memicu penurunan jumlah wisatawan, yang akhirnya berdampak pada pendapatan industri pariwisata.

Beberapa perusahaan yang berpotensi terdampak antara lain jaringan hotel besar seperti Hilton Worldwide dan Marriott International. Selain itu, operator kapal pesiar seperti Norwegian Cruise Line Holdings, Carnival Corporation, dan Royal Caribbean Group juga menghadapi risiko penurunan permintaan perjalanan.

Ketika wisatawan menunda perjalanan karena kekhawatiran keamanan atau kondisi ekonomi global, sektor ini biasanya menjadi salah satu yang pertama terdampak.

4. Asuransi properti dan kerugian (Property & Casualty)

Ilustrasi properti (freepik.com)

Sektor asuransi juga dapat menghadapi risiko tersembunyi selama konflik geopolitik. Perusahaan asuransi yang memiliki eksposur reasuransi di kawasan Teluk berpotensi menghadapi klaim besar jika terjadi serangan terhadap fasilitas energi atau jalur perdagangan.

Serangan terhadap infrastruktur minyak dapat memicu klaim gangguan bisnis serta kerugian pengiriman kargo laut di berbagai negara sekaligus. Proses hukum terkait klausul pengecualian perang dalam polis asuransi juga bisa memakan waktu dan biaya yang besar bagi perusahaan reasuransi.

Situasi ini semakin kompleks setelah pernyataan dari Donald Trump, yang sempat menjanjikan dukungan perlindungan asuransi bagi perusahaan pengiriman melalui platform Truth Social. Namun, dampak nyata dari kebijakan tersebut terhadap industri asuransi masih belum jelas.

Ketegangan geopolitik sering membawa dampak besar terhadap pasar keuangan global. Bagi investor pensiunan, volatilitas seperti ini dapat meningkatkan risiko karena keterbatasan waktu untuk memulihkan kerugian investasi.

Sektor energi, maskapai penerbangan, pariwisata, serta asuransi properti termasuk yang paling rentan terhadap dampak konflik di Timur Tengah. Oleh karena itu, investor yang mendekati atau sudah memasuki masa pensiun perlu mengevaluasi kembali portofolio mereka agar tetap seimbang dan sesuai dengan tingkat risiko yang dapat ditoleransi.

Pendekatan investasi yang hati-hati dan terdiversifikasi dapat membantu melindungi dana pensiun dari gejolak pasar yang dipicu oleh ketidakpastian global.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team