Ilustrasi pasar saham (freepik.com)
Berikut pendapat para pakar investasi untuk menilai apakah skeptisisme Buffett terhadap saham maskapai masih relevan, sebagaimana dilansir GOBankingRates.
Presiden dan Senior Portfolio Manager di ValueTrend Wealth Management, Keith Richards menilai karakter industri penerbangan tidak cocok dengan gaya investasi Buffett.
“Bisnis maskapai sangat siklikal dan penuh ketidakpastian, sementara Buffett menyukai perusahaan yang stabil dan bisa diprediksi,” ujarnya.
Analis obligasi senior di Gimme Credit, Jay Cushing menambahkan, sektor ini sejak lama dikenal rentan terhadap guncangan eksternal yang sulit dikendalikan.
Lonjakan harga minyak, ancaman terorisme, hingga konflik serikat pekerja dapat langsung memangkas margin keuntungan dan mengganggu operasional.
Richards juga menyorot maskapai sulit membangun keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Biaya tetap yang tinggi dan biaya variabel yang sulit dibebankan ke konsumen membuat ruang laba menjadi sangat sempit.
Cushing menambahkan, industri ini sangat teregulasi dan padat serikat pekerja, sehingga fleksibilitas manajemen terbatas dan biaya operasional meningkat. Selain itu, maskapai harus terus menggelontorkan dana besar untuk pembelian pesawat, perawatan, dan infrastruktur.
“Dengan struktur seperti ini, bahkan maskapai yang dikelola dengan baik pun kesulitan menghasilkan imbal hasil yang konsisten bagi investor,” ujarnya.
Meski industri penerbangan sangat penting bagi perekonomian global, struktur biaya tinggi, risiko eksternal, dan sifat bisnis yang siklikal membuat saham maskapai kurang menarik bagi investor berorientasi nilai seperti Warren Buffett. Pengalaman Buffett sendiri menunjukkan, bahkan dengan manajemen yang solid, faktor di luar kendali dapat dengan cepat mengubah prospek investasi di sektor ini.