Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Berkshire Masuki Era Greg Abel, Pasar Masih Ragu Pasca Buffett Mundur

CEO Berkshire Hathaway, Greg Abel
CEO Berkshire Hathaway, Greg Abel (ualberta.ca)
Intinya sih...
  • Pasar merespons negatif transisi kepemimpinan
  • Warisan Buffett dan beban yang diwariskan ke Abel
  • Kekhawatiran soal pengelolaan portofolio saham
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times — Walau Berkshire masuki era Greg Abel, Warren Buffett meminta para investor untuk tetap tenang setelah dirinya resmi menyerahkan jabatan CEO Berkshire Hathaway. Dalam wawancara terbaru, investor legendaris berusia 95 tahun itu menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan tidak akan mengubah arah perusahaan yang telah ia bangun selama lebih dari enam dekade.

Namun, respons pasar justru menunjukkan keraguan. Sejak Buffett mengumumkan rencana pensiunnya, saham Berkshire Hathaway bergerak tertinggal dibandingkan pasar saham secara keseluruhan. Perbedaan persepsi antara keyakinan Buffett dan sikap investor ini menyoroti tantangan transisi kepemimpinan di perusahaan dengan figur sentral yang sangat dominan.

1. Pasar merespons negatif transisi kepemimpinan

potret pelemahan saham Berkshire Hathaway
potret pelemahan saham Berkshire Hathaway (dok. Google Finance)

Dalam wawancara yang dirilis Jumat (2/1/2026), Buffett menepis kekhawatiran soal masa depan Berkshire Hathaway. Ia menegaskan bahwa perubahan CEO tidak akan mengubah karakter perusahaan. “Semuanya akan tetap sama,” ujar Buffett, dilansir CNBC International.

Namun, pergerakan saham berkata lain. Sejak pengumuman pensiun Buffett pada awal Mei tahun lalu, saham Berkshire Hathaway turun sekitar 7 persen hingga akhir tahun. Pada periode yang sama, indeks S&P 500 justru mencatatkan kenaikan sekitar 20 persen. Sejumlah analis menyebut selisih kinerja tersebut sebagai succession discount, yakni diskon valuasi akibat kekhawatiran transisi kepemimpinan.

Pada Kamis (1/1/2026) atau hari pertama perdagangan di bawah kepemimpinan CEO baru Greg Abel, saham Berkshire kembali melemah lebih dari 1 persen, sementara S&P 500 bergerak menguat. Perbedaan ini mempertegas bahwa sebagian investor masih bersikap wait and see terhadap era baru Berkshire.

2. Warisan Buffett dan beban yang diwariskan ke Abel

potret Greg Abel sewaktu menjabat sebagai CEO Berkshire Hathaway Energy
potret Greg Abel sewaktu menjabat sebagai CEO Berkshire Hathaway Energy (dok. Berkshire Hathaway Energy)

Buffett membangun Berkshire Hathaway selama hampir 60 tahun, mengubah perusahaan tekstil yang nyaris bangkrut menjadi konglomerasi bernilai triliunan dolar. Dalam periode tersebut, saham Berkshire mencatatkan pertumbuhan tahunan majemuk sebesar 19,9 persen, hampir dua kali lipat dari rata-rata S&P 500 yang berada di level 10,4 persen.

Meski mengakui bahwa warisan tersebut bukan hal mudah untuk diteruskan, Buffett menilai Greg Abel sebagai sosok yang tepat. Ia bahkan menyampaikan keyakinannya secara terbuka. “Saya lebih memilih Greg yang mengelola uang saya dibandingkan penasihat investasi atau CEO mana pun di Amerika Serikat,” kata Buffett.

Abel juga berupaya meredam kekhawatiran investor. Dalam rapat tahunan pemegang saham pada Mei 2025, ia menegaskan kesinambungan strategi Berkshire. “Kami akan tetap menjadi Berkshire. Cara Warren dan tim mengalokasikan modal selama 60 tahun terakhir tidak akan berubah,” ujar Abel, dikutip Wall Street Journal.

Greg Abel, 63 tahun, bergabung dengan Berkshire pada 1999 melalui akuisisi MidAmerican Energy. Ia kemudian mengembangkan unit tersebut menjadi Berkshire Hathaway Energy, yang kini bernilai lebih dari 90 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.502 triliun (kurs Rp16.696) dan mencakup bisnis energi terbarukan, pipa, serta utilitas di Amerika Utara dan Inggris.

3. Kekhawatiran soal pengelolaan portofolio saham

ilustrasi saham
ilustrasi saham (unsplash.com/Anne Nygård)

Selain menjalankan bisnis operasional, Berkshire Hathaway juga mengelola portofolio saham senilai sekitar 311 miliar dolar AS atau setara Rp5.192 triliun, salah satu yang terbesar di dunia. Portofolio ini dibangun melalui investasi ikonik di perusahaan seperti Apple, Coca-Cola, dan American Express.

Kekhawatiran investor meningkat setelah salah satu dari dua manajer investasi Berkshire, Todd Combs, hengkang ke JPMorgan Chase. Dengan kepergian Combs, Ted Weschler kini menjadi pengelola utama portofolio saham Berkshire.

Meski memiliki rekam jejak impresif—mengembangkan dana pensiun individu senilai 70 ribu dolar AS menjadi 221 juta dolar AS atau setara Rp3,68 triliun —Buffett pernah mengakui bahwa kinerja Weschler dan Combs sejak bergabung “sedikit” tertinggal dari S&P 500.

Sejumlah investasi yang dikaitkan dengan Weschler juga belum memberikan hasil signifikan. Investasi Berkshire senilai 4 miliar dolar AS atau setara Rp66,78 triliun di DaVita relatif stagnan dalam lima tahun terakhir, sementara saham Sirius XM turun sekitar dua pertiga dari nilai investasinya.

4. Buffett masih berperan di balik layar

Warren Buffett
Warren Buffett (The Forbes Collection/Timothy Archibald)

Meski tak lagi menjabat sebagai CEO, Buffett belum sepenuhnya meninggalkan Berkshire. Ia tetap menjadi ketua dewan direksi dan menguasai sekitar 30 persen hak suara perusahaan. Ia juga masih akan menghadiri rapat tahunan pemegang saham, meski tidak lagi menjadi pembicara utama.

Buffett menilai latar belakang operasional Abel cukup untuk memimpin Berkshire, meski ia tidak dikenal sebagai pemilih saham ulung. “Dia sangat memahami bisnis. Jika Anda memahami bisnis, Anda akan memahami saham biasa,” ujar Buffett pada rapat pemegang saham 2024.

Dalam wawancara yang sama, Buffett juga menyampaikan keyakinannya terhadap daya tahan Berkshire Hathaway. “Menurut saya, perusahaan ini punya peluang lebih besar untuk tetap ada 100 tahun ke depan dibandingkan perusahaan mana pun yang saya tahu,” ujarnya.

Berkshire masuki era Greg Abel menandai babak baru bagi salah satu perusahaan paling berpengaruh di dunia. Meski Warren Buffett menegaskan kesinambungan strategi dan nilai perusahaan, respons pasar menunjukkan bahwa kepercayaan penuh terhadap era pasca-Buffett masih membutuhkan waktu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Business

See More

xAI Milik Elon Musk Raih Pendanaan Rp336 Triliun dari Investor Global

09 Jan 2026, 12:43 WIBBusiness