Aku adalah manusia yang punya luka,
luka yang terpendam
di dalam diri.
Aku tertawa,
bercanda dan bersenandung
bukan karena lukanya sudah reda,
hanya saja ia bersembunyi
di tempat paling dalam.
Tentu orang lain tak pernah melihatnya,
karena yang mereka lihat hanya keadaan luar.
Mereka pun tak memahami,
sebab setiap luka yang mendera
tentu berbeda.
Aku tak memaksa mereka untuk memahami
luka yang sedang kurasakan.
Hanya saja, jangan memintaku
untuk sembuh dengan cepat.
Karena saat ini
sembuh tidak lagi berarti kembali seperti semula,
melainkan tentang terbiasa
menjalani hari dengan bekas pecahannya.
![[PUISI] Bekas yang Tak Terlihat](https://image.idntimes.com/post/20260307/pexels-aleksandr-neplokhov-486399-3971223_d66dd84d-5f12-484e-bded-687eed3ea57e.jpg)