Pada kelam kalbu kala semesta dionggok mendung,
ia datang dalam keheningan pilu
Perawakannya menyerupai topan,
dan langkah kakinya bagai amuk badai
Debu dan dedaunan dibawanya berkeliaran,
sayup-sayup seolah membisikkan kalimat maut,
“Yakinkah kau akan hidup?”
Sorakan ketakutan itu nyata,
Menghunus tulang,
Membunuh semangat
Namun benihnya tetap ditahan-tahan,
Disimpan-simpan dan dibiarkan tumbuh
Sebab butuh rasa takut,
Untuk akhirnya keberanian tumbuh
![[PUISI] Benih Rasa Takut](https://image.idntimes.com/post/20230422/pexels-joao-jesus-808711-d42c89911329cc88659131fa9eeaf52f-d368cba86c1cb61b80d4627612238179.jpg)