berdukalah sepuasmu dalam senyap
dalam hening yang bahkan tak ada satu pun semut yang merayap
saat jalan-jalan lengang seolah terbuka hanya untukmu
saat kesepian menjadi sekutu terbaik di sudut kamarmu
berdukalah sepuasmu dalam senyap itu, Adinda
tak perlu kau tunjukkan betapa rapuhnya bahumu
betapa kalutnya pikiranmu saat itu
yang terus menerus didera oleh pertanyaan yang sama
pertanyaan kapan yang melulu merajai kepala
ia bagai pasak besi yang menembus segalanya
kau terluka dan berduka
ikut mempertanyakan takdir yang masih tertutup tabir
di antara miliaran manusia di muka bumi ini
mengapa kau salah satunya yang harus buta peta
tak tau arah dan tak bisa membaca ke mana kiranya kau harus melangkah
tak tahu siapa yang harus kau temui untuk memasangkan cincin di jari
orang-orang tak ada yang tahu
bahwa kau juga sedang mencoba menerjemahkan dirimu
bahwa kau juga berduka
bahwa kau juga menyimpan lara atas kesepian yang ada
maka berdukalah sepuasnya
berdukalah dalam senyap
sampai kau lelap
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Berdukalah dalam Senyap
![[PUISI] Berdukalah dalam Senyap](https://image.idntimes.com/post/20260516/1000217078_fe2d9a35-7d44-471b-afe8-0d947c42b7b6.jpg)
ilustrasi perempuan bersedih (unsplash.com/Anthony Tran)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editor’s Picks
Editorial Team
EditorYudha