Anak itu
masih bisa mengeja mimpi
dengan huruf miring di buku tulis murah,
tapi negara membaca hidupnya
sebagai catatan kaki
yang boleh dilewati.
Di NTT,
matahari terlalu rajin menyala
sementara sekolah terlalu sering lupa
bahwa perut kosong
tidak pernah akrab
dengan pelajaran Pancasila.
Ia belajar berhitung
dari jarak:
jarak rumah ke sekolah,
jarak janji ke kenyataan,
jarak suara tangis ke telinga pejabat
yang sedang rapat soal masa depan
versi PowerPoint.
Anak itu SD,
tapi sudah lebih dulu paham
apa arti ditinggalkan.
Ia hafal bentuk abai
dari seragam yang sama
dipakai berulang
hingga warnanya menyerah.
Pemerintah berkata:
pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan
lalu lupa membangun jalannya.
Menyuruh anak berjalan
di tanah retak,
tanpa air, tanpa sepatu,
tanpa alasan untuk tetap kuat.
Ketika ia pergi,
negara buru-buru datang
membawa karangan bunga
dan kalimat duka
yang dicetak rapi,
tanpa tanda tanya.
Tak ada yang bertanya:
mengapa anak sekecil itu
lebih dulu putus asa
daripada para pengambil keputusan?
Mengapa yang paling cepat menyerah
justru bukan mereka
yang digaji untuk peduli?
Di berita,
kematiannya diringkas
jadi angka,
jadi kasus,
jadi jeda iklan.
Lalu kita lanjut hidup,
seolah itu tak pernah terjadi
karena bagi negara,
yang mati hanya satu anak,
bukan kegagalan sistem.
Padahal yang bunuh diri hari itu
bukan cuma seorang murid SD,
tapi juga
nurani yang terlalu lama
diparkir
di gedung-gedung ber-AC.
![[PUISI] Buku Tulis yang Tak Pernah Dibaca Negara](https://image.idntimes.com/post/20260205/pexels-pixabay-247314_5944df2e-517e-49b5-8a84-8540c4394f0c.jpg)