Bumi menulis surat dengan tinta debu,
alamatnya awan, capnya waktu.
Di setiap kata ada rindu yang beku,
tentang hijau yang dulu pernah tumbuh.
Ia lipat laut, ia segel api,
dikirimkan lewat angin yang sepi.
Isinya tangis yang tak lagi rapi,
tentang janji yang sering dilanggar sendiri.
Di pojok kertas ada noda hujan,
air mata gunung, sungai, dan hutan.
Rimanya retak, nadanya keluhan,
meminta jeda dari luka tahunan.
Jika surat ini sampai ke hati,
tolong dibaca tanpa alibi.
Karena ini bukan ancaman lagi,
ini pamit dari Bumi yang letih.
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Bumi Menulis Surat Terakhir
![[PUISI] Bumi Menulis Surat Terakhir](https://image.idntimes.com/post/20260212/pexels-nurseryart-346885_44531266-546b-4e84-a3f5-8c297ed9eb6b.jpg)
ilustrasi miniatur bumi (pexels.com/Porapak Apichodilok)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editorial Team
EditorYudha
Follow Us