Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[PUISI] Cinta Puan Bukan Takhta
ilustrasi tangan menggenggam bunga (pexel.com/Lisa from Pexels)

Suaranya parau
teriakan berkelebat bergantian
Sang Puan menanti
hanya untuk termangu karenanya

“Maaf telah lama,
kau pasti menanti,
tapi aku tak peduli”

Ah…
lirih sunyi tak terbilang
Sang Puan memandang nanar

“Ternyata gampang sekali,
meninggalkan seseorang,
saat kau bertakhta”

Sang Puan baik-baik saja di sini,
memandang cinta termakan takhta
sebab cintanya ada
jauh sebelum ia bertakhta

Maka mendakilah cinta termakan takhta
sebab Sang Puan tak melirik lagi
memangnya,
untuk apa itu cinta?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team