Suaranya parau
teriakan berkelebat bergantian
Sang Puan menanti
hanya untuk termangu karenanya
“Maaf telah lama,
kau pasti menanti,
tapi aku tak peduli”
Ah…
lirih sunyi tak terbilang
Sang Puan memandang nanar
“Ternyata gampang sekali,
meninggalkan seseorang,
saat kau bertakhta”
Sang Puan baik-baik saja di sini,
memandang cinta termakan takhta
sebab cintanya ada
jauh sebelum ia bertakhta
Maka mendakilah cinta termakan takhta
sebab Sang Puan tak melirik lagi
memangnya,
untuk apa itu cinta?
![[PUISI] Cinta Puan Bukan Takhta](https://image.idntimes.com/post/20260224/ilustras-menggenggam-bunga_d650229c-48fe-4448-b72c-847e156c077e.jpg)