dan tibalah kau pada suatu masa
kanak-kanak adalah tawa yang paling diinginkan terulang
sedang dewasa adalah kata
yang tak terjemahkan oleh kata-kata
hidup adalah perkara dinilai dan menilai
namun kau tak kan pernah bisa memilih rapotmu sendiri
seperti daun yang tak bisa memilih
di mana ia akan jatuh dan terurai
tapi, apa pedulinya menilai dan dinilai
toh, hidup hanyalah perjalan menuju mati
perjalanan menapaki setapak tanah
ke setapak tanah lain sebelum bersemayam
di dadanya yang sesak dan penuh kengerian
di dadanya (bumi) dipenuhi gulita
sedang kita masih tak tahu apa-apa
aku dungu dan tak bertulang untuk sekadar meneruskan tualang
dan kau tampaknya buta:
melihat taman di mataku yang penuh wijaya kusuma
![[PUISI] Daun yang Tak Bisa Memilih Jatuhnya](https://image.idntimes.com/post/20260507/michael-glazier-vhtuwzwhiy0-unsplash_33d7ccfb-1632-4da9-94dc-e6119c538e5c.jpg)