Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[PUISI] Daun yang Tak Bisa Memilih Jatuhnya
ilustrasi daun yang jatuh (unsplash.com/ichael Glazier)

dan tibalah kau pada suatu masa

kanak-kanak adalah tawa yang paling diinginkan terulang

sedang dewasa adalah kata

yang tak terjemahkan oleh kata-kata

hidup adalah perkara dinilai dan menilai

namun kau tak kan pernah bisa memilih rapotmu sendiri

seperti daun yang tak bisa memilih

di mana ia akan jatuh dan terurai

tapi, apa pedulinya menilai dan dinilai

toh, hidup hanyalah perjalan menuju mati

perjalanan menapaki setapak tanah

ke setapak tanah lain sebelum bersemayam

di dadanya yang sesak dan penuh kengerian

di dadanya (bumi) dipenuhi gulita

sedang kita masih tak tahu apa-apa

aku dungu dan tak bertulang untuk sekadar meneruskan tualang

dan kau tampaknya buta:

melihat taman di mataku yang penuh wijaya kusuma

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team