Di bawah langit-langit kamar yang mulai hafal rahasia,
aku duduk mengeja nasib di antara baris-baris lowongan.
Ijazah itu masih tersimpan rapi, sewangi doa ibu,
tetapi dunia di luar sana terasa seperti gerbang yang terkunci.
Ada lelah yang berbeda dari mereka yang pulang bekerja,
yakni lelah mencari tempat untuk sekadar meletakkan tenaga.
Setiap notifikasi adalah detak jantung yang tertunda,
lalu berakhir menjadi sunyi yang kembali menyapa.
Aku bukan malas, aku hanya sedang menunggu giliran,
menata kembali pecahan percaya diri yang sempat terserak.
Sebab, aku tahu nilai diri tidak ditentukan oleh slip gaji
dan langkah yang terhenti sejenak bukan berarti mati.
Tuhan, izinkan aku tetap tegak di antara pandangan yang menghakimi,
menenun sabar hingga tiba saatnya aku bisa kembali memberi arti.
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Di Antara Lipatan Ijazah dan Harapan
![[PUISI] Di Antara Lipatan Ijazah dan Harapan](https://image.idntimes.com/post/20260428/pexels-markus-winkler-1430818-4101343_9c08624b-cd96-4f4f-b142-01c4979b9bf3.jpg)
ilustrasi melamar pekerjaan (pexels.com/markus winkler)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editorial Team
EditorYudha
Follow Us