Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[PUISI] Diri Yang Hampir Punah
ilustrasi Cahaya minim, hanya siluet tubuh terlihat. (pinterest.com/keraaaaaaaaaaa)

Tak ada cahaya yang masuk,
bahkan tidak ada celah untuk sekadar mengintip.
Hanya ada pintu yang terkunci,
begitu rapat dan tertutup, menggambarkan diriku saat ini.

Aku berteriak dengan lantang,  
berharap akan ada yang menolongku.

Namun bayanganku berkata
bahwa yang kulakukan hanya menghasilkan kecewa.

Hancur dan utuh bergilir menghampiriku,
menyapa dan mengikuti tanpa jeda,
memberi banyak hal tanpa terduga,
bahkan dari hal yang tak pernah ku minta.

Terpenjara dalam ruang gelap seorang diri,
menjadi mimpi buruk yang begitu nyata.
Bergaul dengan ketakutan
dan saling merangkul dengan kesunyian.

Terkadang diriku memberontak,
bersikeras untuk mendobrak ingin keluar.
Melihat indahnya bagaskara yang tenggelam,
memanjakan mata dengan warna jingganya.

Tetapi bayanganku
menghentikan diriku secara paksa.
Dengan memperlihatkan luka secara nyata.
Apakah kau tahu rasanya menjadi diriku saat ini?

Aku ingin terbang,
namun sayapku terlanjur patah.
Aku ingin menggapai hal yang telah dirangkai,
tetapi harapan tak kunjung ku dapatkan.

Kumohon, kukuhlah dalam menjelajah;
istirahatlah jika masih ragu mengambil arah.
Semestaku telah hancur dan kehilangan arah,
jangan membuat itu menjadi punah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team