Malam turun dengan warna abu
Lampu-lampu padam oleh ketakutan
Jalan yang dulu penuh tawa
Kini hanya menyimpan gema langkah
Seseorang berdoa di sudut rumah runtuh
Tangannya gemetar seperti daun
Bukan meminta kemenangan
Hanya memohon esok masih ada
Api menari di antara dinding
Seperti lidah marah yang tak kenyang
Namun di balik asap itu
Harapan masih bersembunyi kecil
Dan doa itu terbang perlahan
Melewati langit yang luka
Mencari telinga langit
Yang masih mau mendengar manusia
![[PUISI] Doa dari Kota yang Terbakar](https://image.idntimes.com/post/20260310/pexels-mauricio-krupka-buendia-1141363850-32632477_03a9f815-8018-4d21-a93b-d404dd173140.jpg)