Di pundakmu, fajar tak pernah benar-benar terbit
Karena kau lebih dulu berjaga
Harapan yang kau pikul bukan mainan kecil
Tapi beban keluarga yang kau sujudkan di atas sajadah
Tawamu mungkin sedikit lebih parau
Dari mereka yang tak perlu cepat dewasa
Karena kau adalah jembatan di antara dua tepi
Menyatukan impian yang hampir tenggelam
Tanganmu terbiasa dengan letih
Menggenggam asa untuk adik-adikmu
Kau relakan mimpimu menguap jadi mimpi mereka
Tanpa sempat bertanya, “Lalu, bagaimana dengan aku?”
Kakak, biar waktu yang membalas lelahmu
Atau setidaknya, biar angin malam ini
Membisikkan pada bintang-bintang
Bahwa pundakmu adalah tempat harapan berpijak paling kuat
![[PUISI] Harapan di Pundak Kakak](https://image.idntimes.com/post/20260316/photo-1673832398164-8455c979ab44_5c970062-6ce3-4422-97fc-900355b1fc39.jpeg)