Kugali sekali lagi
Ke belakang saat momen manis itu hadir
Saat-saat di mana matamu berbinar terang
Saat-saat nawang sasi jatuh di manikmu
Lalu suaramu muncul membayangi benakku
“Selamat wisuda!”
Gaungnya tertinggal di kepalaku
Yang tiap mengingatnya selalu kucoba terus kikis
Cap senyummu membekas dalam ingatanku
Seulas senyum yang sulit dihilangkan
Meski aku sudah menemukan yang lebih manis
Tapi, dia satu dari jenis senyum yang tak kutahu ronanya
Yang pasti,
Hari itu hatiku
Merah muda
Seperti pipinya ketika tertawa
Setahun berikutnya
Aku hanya mengulurkan sejuput angan
Dan narasi ini berhasil kutuliskan
Tanpa sepenggal pertanyaan tentangmu lagi
Asal kamu tahu,
Puisiku kali ini dimuat koran setempat
Asal kamu tahu,
Puisiku kali ini tak bernyawa
Menjelang hari raya
Aku menemukan aromamu
Berbaur di antara hingar bingar taman kota
Tergulung arus harsuka
Kepada suara yang tak bisa kuajak bicara
Kepada aroma yang kuhapal di luar kepala
Aku hanya memuji untuk sebuah kenang
Kepadamu yang tak lekang dari bayang
Jadi,
Kuputuskan untuk menutup lubang asa ini
Agar kamu terus terjebak
Di relung hatiku yang terus berubah warna
![[PUISI] Hati yang Terus Berubah Warna](https://image.idntimes.com/post/20260417/kebutuhan-puisi_41f2d166-f498-4d09-9ebc-8774c81b2fc0.jpeg)