Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[PUISI] Hati yang Terus Berubah Warna
Ilustrasi tumpukan foto polaroid yang penuh kenangan. (pexels.com/Artist Linbei)

Kugali sekali lagi
Ke belakang saat momen manis itu hadir
Saat-saat di mana matamu berbinar terang
Saat-saat nawang sasi jatuh di manikmu

Lalu suaramu muncul membayangi benakku
“Selamat wisuda!”
Gaungnya tertinggal di kepalaku
Yang tiap mengingatnya selalu kucoba terus kikis

Cap senyummu membekas dalam ingatanku
Seulas senyum yang sulit dihilangkan
Meski aku sudah menemukan yang lebih manis
Tapi, dia satu dari jenis senyum yang tak kutahu ronanya

Yang pasti,
Hari itu hatiku
Merah muda
Seperti pipinya ketika tertawa

Setahun berikutnya
Aku hanya mengulurkan sejuput angan
Dan narasi ini berhasil kutuliskan
Tanpa sepenggal pertanyaan tentangmu lagi

Asal kamu tahu,
Puisiku kali ini dimuat koran setempat
Asal kamu tahu,
Puisiku kali ini tak bernyawa

Menjelang hari raya
Aku menemukan aromamu
Berbaur di antara hingar bingar taman kota
Tergulung arus harsuka

Kepada suara yang tak bisa kuajak bicara
Kepada aroma yang kuhapal di luar kepala
Aku hanya memuji untuk sebuah kenang
Kepadamu yang tak lekang dari bayang

Jadi,
Kuputuskan untuk menutup lubang asa ini
Agar kamu terus terjebak
Di relung hatiku yang terus berubah warna

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team