Masih coba kupahami,
mengapa menjadi miskin di negeri ini
begitu hina dan tiada berarti.
Bagi politisi, orang miskin tak ubahnya hama
yang akan dipedulikan bila mereka butuh suara.
Bagi saudara yang kaya, miskin adalah budak
yang kelak diperbantukan saat acara keluarga
dan diletakkan di bagian belakang rumahnya.
Tak cukup sampai di situ,
di internet, kemiskinan bukannya diperbincangkan
dan dicari akar masalah serta penyelesaiannya,
tetapi juga dihina dinakan seolah semua sama;
mental pengemis yang suka meminta-minta,
yang selalu berharap belas kasih dari siapa saja.
Sebegitu jijiknya kah dengan orang miskin?
Atau sebenarnya enggan peduli pada orang lain?
Si miskin yang menyebalkan? Ada.
Si miskin yang mengganggu? Banyak.
Si miskin yang menyusahkan? Barangkali kita.
Tapi, itu semua, jangan sampai buat kita menutup mata
dari sebuah fakta kalau kemiskinan memang sengaja
dipelihara oleh sebagian orang yang punya kuasa
agar supaya...
Supaya apa?
Biarlah kita semua menerka-nerka
dan belajar lebih banyak perihal akar masalah
dari sebuah masalah yang ada.
Hidup kan tak sekadar hitam dan putih,
begitu juga dengan miskin dan kaya;
tak bisa hanya diukur dari kerasnya usaha,
ada banyak variabel yang jadi penentunya.
Dayat Pliang, 19 April 2026.
![[PUISI] Hina Dina Kemiskinan Kita](https://image.idntimes.com/post/20260419/europeana-a0klhy8gxpg-unsplash_bb0ef9fb-0616-4a33-a46f-aa808341e419.jpg)