Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[PUISI] Mengapa Kami Dituntut Pasrah?

[PUISI] Mengapa Kami Dituntut Pasrah?
ilustrasi menatap senja (pexels.com/Pixabay)
Intinya Sih
  • Puisi ini menggambarkan perasaan korban yang dituduh dan diframing tanpa keadilan, menyoroti luka batin akibat tudingan yang tidak berdasar.
  • Penyair menyoroti tekanan sosial terhadap perempuan untuk pasrah dan mengalah meski menjadi korban ketidakadilan serta stereotip gender.
  • Karya ini menyuarakan perlawanan terhadap stigma bahwa perempuan yang bersuara dianggap melanggar adab atau membangkang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kala suara sumbang memecah
Dituduh tanpa memiliki marwah
Framing menjadi luka tak berdarah
Cerita dan tudingan mengarah

Kami korban, mengapa dituntut pasrah?
Diharuskan mengalah
Diminta menjadi lemah
Bersuara dibalas sumpah serapah

Lelaki culas melempar opini tanpa arah
Sesama wanita termakan framing murah
Melawan dianggap membangkang
Bersuara dituduh adab yang hilang

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Editorial Team