Kau datang mengetuk pintu dengan wajah iba
Menawarkan bahu seolah kau paling setia
Sunyi merayap melihat sandiwaramu yang gila
Berlagak jadi penawar, padahal kau adalah bisa
Tanganmu merangkulku dengan pelukan hangat
Tapi matamu mengincar sisa hidupku yang sekarat
Kau simpan rahasia di balik senyum yang terpahat
Mengambil yang tertinggal dengan langkah yang jahat
Silakan dekap bayangan yang kau anggap abadi
Di atas air mataku yang kau isap tanpa tahu diri
Tunggulah saatnya semua topengmu luruh
Karena dusta akan berakhir binasa, percayalah
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Inang Benalu
![[PUISI] Inang Benalu](https://image.idntimes.com/post/20260418/pexels-cottonbro-6764111_a32be83e-fbb2-4bff-a94e-e69825837bad.jpg)
ilustrasi wajah yang tumpang tindih (pexels.com/cottonbro studio)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editorial Team
EditorYudha
Follow Us