Kita adalah barisan ambisi yang lupa cara berhenti,
mengejar validasi di balik layar yang tak pernah mati.
Lupa bahwa raga butuh jeda untuk sekadar bernapas,
sebelum seluruh mimpi-mimpi dipaksa tuntas.
Dunia tak akan runtuh hanya karena kamu memilih rehat,
menyembuhkan luka yang selama ini kamu simpan rapat.
Sebab menjadi dewasa bukan tentang siapa yang tercepat,
tapi tentang siapa yang paling tahu kapan harus beristirahat.
Simpan cemasmu, biarkan esok datang dengan warnanya sendiri,
tak perlu membandingkan mekar dengan bunga di kanan-kiri.
Kamu sudah cukup hebat dengan segala juangmu hari ini,
terima kasih telah bertahan meski jalan sering kali sunyi.
![[PUISI] Jedalah Sejenak](https://image.idntimes.com/post/20260331/pexels-cottonbro-9063397_0721bcbb-aac2-431f-8535-2e57ba77cb67.jpg)