Aku berjalan di antara waktu yang kejam dan tak selalu ramah,
meninggalkan jejak yang bahkan aku sendiri
tak sepenuhnya mengerti seperti apa bentuknya.
Ada langkah-langkah yang kuambil tanpa arah dan tujuan pasti,
seolah hidup hanya mengalir
tanpa pernah menunggu saat aku benar-benar siap.
Beberapa hal datang terlalu cepat,
lalu menghilang sebelum sempat kupahami,
menyisakan ruang kosong dan segala kenangan
yang tidak pernah benar-benar terisi sepenuhnya.
Jejakku mungkin terlihat samar,
terhapus angin, hujan, dan waktu yang terus berjalan,
seakan tidak pernah benar-benar ada
yang bisa dipertahankan atau dibaca kembali.
Jika suatu hari seseorang mencoba memahami aku,
mungkin ia hanya akan menemukan sisa-sisa
dari hal yang tidak pernah selesai diungkapkan,
dan tidak pernah benar-benar utuh diceritakan.
Karena tidak semua perjalanan
ditulis untuk dapat dimengerti,
beberapa hanya ditinggalkan
sebagai jejak yang tak terbaca.
![[PUISI] Jejak yang Tak Terbaca](https://image.idntimes.com/post/20260514/pexels-seymanur-1126723555-33734471_db3e22f5-5e9c-4d15-b80a-b15f83b5b850.jpg)