Di tanah ini, bumi menangis serupa luka,
tetes darahnya adalah keringat rakyat jelata.
Taring negeri mencabik habis tanpa jeda,
menghisap nyawa hingga ke sumsum asa.
Kursi-kursi kekuasaan berlapis emas tua,
dibeli dengan janji yang terbalut dusta.
Upah rendah, sekadar serpih remah,
perut kecil tercekik langkah amarah.
Cari-mencari keadilan berpijak
Tertimbun di bawah meja-meja rapat.
Cari-mencari suara rakyat
Ditelan angin, lenyap dalam riuh pesta.
Lumbung negeri ladang tikus berpesta,
menggigit bulir padi hingga tak bersisa.
Rakyat menanak air mata dan nestapa,
memilih lapar daripada utang yang melilit jiwa.
Wahai tuan-tuan berdasi belati,
di manakah cermin hati.
Jemari berlumur cat merah,
mencoret masa depan, melahirkan amarah.
Jika suatu hari rakyat bangkit dengan bara,
seruan lantang menggema, “cukup sudah dusta!”
Di balik diam, ada ombak besar yang melawan.
![[PUISI] Lidah-Lidah Kekuasaan!](https://image.idntimes.com/post/20241116/pexels-rodolfoclix-1161935-5b377336e377e8611469c3affdbe9bd9-2cc252a403a144cb750102003f56915b.jpg)