Margin putih di kepala halaman,
tempat kata ragu minta kesempatan.
Aku menunda titik dan penegasan,
membiarkan sunyi jadi catatan.
Di ruang kosong pikiran berbaris,
ide kecil datang lalu menangis.
Tak semua berani jadi kalimat manis,
sebagian gugur sebelum ditulis.
Margin itu menyimpan kegagalan,
hapus tipis dari niat yang kelelahan.
Antara ingin dan ketakutan,
aku berdiri tanpa keputusan.
Sampai suatu waktu pena bergerak,
menembus putih yang lama berjarak.
Kepala tak lagi sekadar tempat bimbang menetap,
tapi ruang hidup bagi makna yang siap.
