Menyiram muram
Dengan sisa hujan tertinggal di mata
Airnya pahit,
Seperti kenangan yang lupa cara pulang
Muram tumbuh di dada
Akar-akarnya menjalar pelan
Mengikat napas,
Menjadikan sunyi rumah sementara
Sebentar meminjam pagi
Menampung cahaya tumpah
Sungguh, muram menutup jendela langit
Mengabaikan permohonan sengit
