[PUISI] Detak di Antara Doa yang Tertahan

Aku tak diharapkan
Makannya aku mengumpat
Berbisik pada takdir yang gemetar mengeja namaku
Setelah menuliskannya dengan tinta bisu
Di ruang gelap terbungkus ketakutan dan keraguan
Aku berdetak di antara doa yang tertahan
Ah, tuan
Andai dulu tak kau tanggalkan nurani itu
Dengan kancing baju carut marut
Dan wajah yang menuntut
Bersaksi atas nama nafsu berahi
Apa salahku?
Sampai harus mengais-ngais afeksi
Menganggap dunia sebagai tempat paling kelam dan sunyi
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.


















