Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi awan gelap
ilustrasi awan gelap (pexels.com/Seatizen.co)

Aku menulis di langit yang menolak dipegang
Menempelkan kata pada ujung awan yang gemetar
Menghitung detik antara kilat dan guntur
Yang berbisik: "kekal hanya milik yang tak pernah tersentuh"

Di bawah sana, kota mengalir seperti air mata yang lupa berhenti
Orang-orang berlari mengejar bayangan diri sendiri
Mereka menanam bendera di atas pasir yang berganti
Lalu heran semilir angin membawa pulang kepastian

Aku mencoba menjahit hari esok dengan benang semalam
Tapi jarumnya patah di tengah jalan
Meninggalkan lubang kecil yang menganga
Seperti mulut yang ingin berkata tapi tak punya bahasa

Mungkin sebenarnya kita semua hanyalah gema
Yang menyangka diri berdiri tegak
Padahal hanya suara yang terus memantul
Antara dinding waktu yang semakin tipis

Jadi aku biarkan tinta ini mengalir tanpa arah
Mencoret awan dengan tanda tanya yang tak terucap
Menyulam kekosongan dengan kata-kata yang terjatuh
Dan biarkan mereka yang membaca
Menjadi pelabuhan sementara bagi harapan yang hilang

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team