Aku menulis di langit yang menolak dipegang
Menempelkan kata pada ujung awan yang gemetar
Menghitung detik antara kilat dan guntur
Yang berbisik: "kekal hanya milik yang tak pernah tersentuh"
Di bawah sana, kota mengalir seperti air mata yang lupa berhenti
Orang-orang berlari mengejar bayangan diri sendiri
Mereka menanam bendera di atas pasir yang berganti
Lalu heran semilir angin membawa pulang kepastian
Aku mencoba menjahit hari esok dengan benang semalam
Tapi jarumnya patah di tengah jalan
Meninggalkan lubang kecil yang menganga
Seperti mulut yang ingin berkata tapi tak punya bahasa
Mungkin sebenarnya kita semua hanyalah gema
Yang menyangka diri berdiri tegak
Padahal hanya suara yang terus memantul
Antara dinding waktu yang semakin tipis
Jadi aku biarkan tinta ini mengalir tanpa arah
Mencoret awan dengan tanda tanya yang tak terucap
Menyulam kekosongan dengan kata-kata yang terjatuh
Dan biarkan mereka yang membaca
Menjadi pelabuhan sementara bagi harapan yang hilang
