Waktu berlalu bagaikan air keluar deras dari tempayan
Terbang bagai angin yang berhembus pelan menghilangkan kenangan
Semua berlalu berpacu dan hanya terlindungi dari sujud kepada Tuhan
Mengekang kenyamanan dan disambut hiruk pikuk Jakarta pinggiran
Tinggi rendahnya saat terbang tak lagi bisa ditentukan
Oleh diri sendiri yang tak sempat memikirkan angan
Semua berlalu terlalu sering karena semua orang berpacu kemenangan
Yang dikira akan jadi satu-satunya jalan yang bisa menentukan
Putih, hitam, gelap, dan terang masih dilihat sebagai suatu tujuan
Padahal gelap di dalam pun tertutup putih cahaya yang berkilauan
Kiranya kota ini mendidik untuk selalu berada dalam pacuan
Yang terus hadir sampai kapan waktu untuk berguguran
Ini baru di pinggiran,
Belum terlalu masuk ke dalam inti Jakarta di mana sepertinya keindahan yang ditawarkan
Entah ada di kelompok mana, tempat aku bisa sedikit memiliki harapan
Karena sejatinya Jakarta tak mau mengalah sembarangan
Untuk mereka yang hanya berpangku tangan
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Merpati di Pinggir Jakarta
![[PUISI] Merpati di Pinggir Jakarta](https://image.idntimes.com/post/20230508/human-g29587b50c-1280-efedab52877034173ca8b3a8fd2f201f.jpg)
ilustrasi pelabuhan (pixabay.com/sopan-sopian)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Curated For You
- [INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial 09 Sep 2026, 13:52 WIB
- [PUISI] Pendosa di Hari Akhir08 May 2023, 15:07 WIB
- Penegakan Hukum Keracunan MBG Dipertanyakan, 11 Tokoh Bersuara21 Sep 2026, 07:00 WIB
Editorial Team
EditorDebby Utomo
Related Article
[PUISI] Yang Tersisa setelah Runtuh01 Oct 2026, 10:07 WIB
[PUISI] Peta tanpa Arah01 Oct 2026, 06:25 WIB
[PUISI] Menopang Diri Sendiri01 Oct 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Langit Berpaut30 Sep 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Rindu yang Bersembunyi di Bawah Rintik Hujan30 Sep 2026, 14:07 WIB
[PUISI] Sinyal Cinta yang Tak Sampai30 Sep 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Kala Rasa Tumbuh30 Sep 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Malam Malang29 Sep 2026, 21:27 WIB
[PUISI] Menepis Sunyi di Penghujung September29 Sep 2026, 21:17 WIB
[PUISI] Hadirmu yang Ciptakan Warna29 Sep 2026, 09:07 WIB
[PUISI] Pesona yang Mengundang Sejuta Rasa29 Sep 2026, 08:48 WIB
[PUISI] Melihat Angin29 Sep 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Menitipkan Mimpi pada Pagi29 Sep 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Aku Ramah, Bukan Rumah28 Sep 2026, 21:17 WIB
[PUISI] Pudar dalam Imaji28 Sep 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Rumah Bernama Ibu28 Sep 2026, 19:40 WIB
[PUISI] Ayah Mengapa Kau Tiada28 Sep 2026, 12:07 WIB
[PUISI] Keluhan Mahasiswa28 Sep 2026, 10:58 WIB
[PUISI] Tepat Pukul Tiga 28 Sep 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Bukan Urusanku Lagi28 Sep 2026, 05:04 WIB