Tanah itu, rumah intelektual
Udara itu, ruang spiritual
Kau mungkin menghakimi, pula membakar
Seribu tuduhan tak bermoral
Kau dengar, manusia bebal!
Pantang terusir barang sejengkal
Sekalipun darah di titik nadir
Hampir tak berdesir
Rumah intelektual terpatri
Ruang spiritual abadi
Pantang mengusir pergi
Mari bertarung saja sampai mati
Rumah riuh metropolis
Pantang terusir anarkis
Sekali lagi, bertarung saja, para manusia bengis
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Pantang Terusir
![[PUISI] Pantang Terusir](https://image.idntimes.com/post/20240608/1000170794-d970b9a19a754cc9ecd9f9b6f7df74c6-c5f60e01ee7eef4e349a943f9b590a7a.jpg)
ilustrasi jalanan kota (pexels.com/Chi Hou Ong)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editorial Team
EditorYudha
Follow Us