Di bawah temaram lampu pabrik yang tak pernah mengantuk,
ada jemari yang menenun mimpi di sela deru mesin yang angkuh.
Kamu adalah arsitek di balik tumpukan produk yang rapi,
menukar tenaga dengan harapan agar dapur tetap berasap lagi.
Tak ada kata terlalu pagi untuk sepatu yang mulai usang,
menyisir jalanan ketika embun masih betah berenang.
Meski raga sering kali hanya dianggap angka dalam laporan,
kaulah nyawa yang menggerakkan roda peradaban.
Ada rindu pada keluarga yang kau simpan di lipatan seragam,
menjadi bahan bakar saat lelah terasa semakin menghujam.
Sebab bagimu, setiap tetes peluh adalah doa yang nyata,
demi masa depan yang lebih cerah bagi mereka yang tercinta.
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Peluh yang Bersemi
![[PUISI] Peluh yang Bersemi](https://image.idntimes.com/post/20260428/pexels-neneqo-fotografo-574087123-17839769_823479a4-82f9-43fe-a44b-b89d9befc846.jpg)
ilustrasi buruh (pexels.com/neneqo fotografo)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editorial Team
EditorYudha
Follow Us