Ada lelah yang tak sanggup dibasuh oleh air matang,
yang merambat di sela punggung dan kelopak mata yang berat.
Ia bukan sekadar peluh setelah menempuh jarak yang jauh,
melainkan riuh di kepala yang tak kunjung menemukan pintu teduh.
Aku telah berlari mengejar detik yang diburu oleh tenggat,
menukar tawa dengan angka, dan mimpi dengan realita yang penat.
Dunia seringkali menuntut kita menjadi mesin yang tak boleh retak,
padahal di dalam sini, ada jiwa yang butuh diletakkan sejenak.
Biarkan aku rebah tanpa perlu merasa berdosa,
menitipkan cemas pada bantal yang paling hafal rahasia.
Sebab menjadi manusia bukan hanya tentang seberapa kuat bertahan,
tapi juga tentang tahu kapan saatnya berhenti dan memaafkan keadaan.
Mari sejenak mematikan layar dan menyalakan ketenangan,
sebab esok tetap akan datang, namun diri ini butuh pemulihan.
![[PUISI] Persimpangan Hari](https://image.idntimes.com/post/20260124/pexels-rdne-7888726_20c78580-c6fd-49f1-97ab-90132f1bb777.jpg)