Ada garis tak terbaca di telapak tangan,
Bukan tentang takdir, melainkan bekas bertahan
Aku menyusurinya perlahan seperti peta lama,
Mencari bahagia yang tak banyak meminta suara
Jalannya berliku di rimba penuh keraguan,
Bisik asing datang menawarkan banyak tujuan
Aku berhenti sejenak, memilih diam sendiri,
Di ruang sunyi itu hatiku mulai bernyanyi
Tak ada arah pasti di papan kota yang ramai,
Wajah asli sering hilang di balik kata usai
Topeng yang kupakai runtuh satu per satu,
Menyisakan diri yang rapuh namun jujur bertemu
Kini kutahu inilah titik yang kutuju,
Bukan tempat tinggi, bukan sorak yang semu
Peta ini mengarahkanku pada satu pelukan,
Tempat aku utuh, dengan kurang yang tak lagi kutahan
