Di tangan kanan, susu hangat harus diseduh,
tawa kecil butuh arah agar tak rubuh.
Di tangan kiri, sisa obat mesti dijaga,
napas tua pelan-pelan beradu dengan raga.
Aku jembatan di tengah dua muara,
menahan beban dari hulu hingga hilir udara.
Menelan lelah saat mentari baru menyapa,
menyimpan keluh di balik senyum pura-pura.
Tabungan bukan lagi angka masa depan,
tapi hitungan hari demi dapur kehidupan.
Antara biaya sekolah dan tagihan rumah sakit,
aku berdiri tegak, meski dada terasa sempit.
Namun di balik punggung kian membungkuk ini,
ada doa-doa tulus merawat nurani.
Menjadi penyambung napas adalah sebuah bakti,
meski diri sendiri sering lupa cara berhenti.
Aku tiang penyangga pantang goyah,
meski badai datang membawa lelah payah.
Sebab di pundak inilah dua generasi bersandar,
mencari perlindungan agar hidup tetap berpijar.
![[PUISI] Pundak Tanpa Jeda](https://image.idntimes.com/post/20260415/pexels-man-1866784_1920_d97afcee-ddb0-4532-a007-edfcfcef9d05.jpg)