Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[PUISI] Rindu yang Menyuruk
ilustrasi bunga (pexels.com/ZEYNEP SEVDA)

Bersuruk-suruk rindu di relung malam,
menyelinap lirih ke celah-celah sepi,
tak bersuara, namun menggurat panjang
pada nurani yang tak henti memengarkan sunyi.

Rembulan menggantung pucat di langit tua,
sementara angin mengirai kenangan perlahan,
dan aku, sang peziarah ingatan,
masih mendamba pulang pada pelukanmu yang lampau.

Betapa rindu kerap menjelma kabut,
tak tampak, namun merundukkan hati,
hidup diam-diam dalam gulma dada,
bersuruk-suruk bersama doa yang tak tersampaikan.

Barangkali kelak logika akan memungutnya,
membawa segala yang tak sempat terucap,
namun rindu bersuruk-suruk itu tetap tinggal,
menjadi gema paling sunyi di ruang ingatan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team