Bersuruk-suruk rindu di relung malam,
menyelinap lirih ke celah-celah sepi,
tak bersuara, namun menggurat panjang
pada nurani yang tak henti memengarkan sunyi.
Rembulan menggantung pucat di langit tua,
sementara angin mengirai kenangan perlahan,
dan aku, sang peziarah ingatan,
masih mendamba pulang pada pelukanmu yang lampau.
Betapa rindu kerap menjelma kabut,
tak tampak, namun merundukkan hati,
hidup diam-diam dalam gulma dada,
bersuruk-suruk bersama doa yang tak tersampaikan.
Barangkali kelak logika akan memungutnya,
membawa segala yang tak sempat terucap,
namun rindu bersuruk-suruk itu tetap tinggal,
menjadi gema paling sunyi di ruang ingatan.
![[PUISI] Rindu yang Menyuruk](https://image.idntimes.com/post/20260506/pexels-zeynep-sevda-114408948-10111406_2c6b1e72-b1f0-4107-83f0-5c7005b60075.jpg)