Di rahim rimba yang dulu hijau berdoa
Pohon-pohon berdiri gagah
Merayu angin dengan daun-daun doa
Kini, doa itu patah digergaji tawa besi
Tanah menangis dalam bahasa retak
Urat-uratnya terkelupas, telanjang
Akar kehilangan alamat pulang
Burung-burung mengemas langgamnya,
Meninggalkan langit yang disulap luka
Tangan serakah menjahit sunyi dengan api
Menyulut malam agar terang oleh abu
Hijau ditukar hitungan laba
