Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi kabut di hutan
ilustrasi kabut di hutan (pexels.com/Fariborz MP)

Hentakan dari tamengku
Tulus berdengung di liang rungu
Akal yang sudah lenyap
Hangus, membarakan api perdebatan

Dahulu kita satu tuju
Bukan sekedar bilangan yang dituju
Tapi kini kita beda laju

Daku matahari terbit
Dan kau purnama yang melangit
Pernah menjadi bumi di masa lalu
Sebelum mendingin menjadi abu

Kala kita menyayangi
Bagai lembutnya angin kepada pagi
Kala kita bertempur
Bagai semi dan gugur yang tercampur

Ku beri puisi ini
Kepadamu yang pernah ku miliki
Kepadamu yang pernah ada di nadiku

Kasih yang rumit ini
Cinta yang mematikan ini
Izinkan daku pamit
Demi sebuah ketenangan

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team