Sepanjang jalan terjal telah merekam
betapa banyak air mata yang mengucur
membasahi tanah yang kemarau.
Air mata ini tak lelah menghujani
setiap momen pedih dan haru.
Bahkan air mata ini lebih asin
dari air laut yang membentang.
Dari situlah aku mulai mengerti
arti dari asinnya garam kehidupan.
Dalam rintih jiwa ini terus menggayuh
meski dalam rapuh dan runtuh
tetap berusaha utuh dan teguh.
![[PUISI] Runtuh dalam Rintih](https://image.idntimes.com/post/20260515/pexels-karola-g-6135083_03290f47-162d-48a5-bb8c-1edac1aa014c.jpg)