Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[PUISI] Runtuh dalam Rintih
ilustrasi menangis (pexels.com/Kaboompic)

Sepanjang jalan terjal telah merekam
betapa banyak air mata yang mengucur
membasahi tanah yang kemarau.
Air mata ini tak lelah menghujani
setiap momen pedih dan haru.

Bahkan air mata ini lebih asin
dari air laut yang membentang.
Dari situlah aku mulai mengerti
arti dari asinnya garam kehidupan.

Dalam rintih jiwa ini terus menggayuh
meski dalam rapuh dan runtuh
tetap berusaha utuh dan teguh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editor’s Picks

Editorial Team