Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi pasangan bersedih
Ilustrasi Pasangan Bersedih (Pexels.com/Cottonbro Studio)

Kau datang padaku
Seperti senja yang malu-malu
Hangat, lembut,
Tapi selalu menyimpan perpisahan
Di ujung warnanya.

Waktu itu,
Aku belum tahu
Bahwa cinta bisa berubah
Menjadi hitungan detik,

Bisa jadi doa
Yang kita bisikkan
Tanpa pernah sanggup selesai.

Ketika tubuhmu mulai rapuh,
Kau tetap tersenyum
Seolah sakitmu adalah rahasia kecil
Yang tak ingin membuat dunia patah.

Aku melihatmu layu
Perlahan,
Seperti bunga yang tetap mekar
Walau hujan terus menampar kelopaknya.

Kau bilang,
“Cinta itu bukan soal lamanya tinggal,
tapi apa yang kamu tinggalkan.”

Dan sejak itu,
setiap genggamanmu
Terasa seperti surat terakhir
Yang kau selipkan di jemariku.

Di malam yang paling sunyi,
Kau rebah di dadaku
Dengan napas yang semakin tipis
Seperti nyala lilin
Yang tahu waktunya hampir habis
Namun tetap berusaha terang
Untuk sekali lagi
Menyebut namaku.

Dan ketika akhirnya
Kau pergi tanpa suara,
Hanya udara yang bergeser
Seperti pintu yang perlahan menutup,

Saat itu aku mengerti,
Kau bukan hilang
Bukan lenyap ditelan gelap
kau hanya kembali
Pada sunyi paling damai,
Tempat cahaya tinggal
Tempat aku
Belum diizinkan menyusul.

Kini aku berjalan
Membawa semua jejakmu,
Tawa yang masih berpendar
Janji yang tak pernah menuntut kembali,
Dan cinta
Yang bahkan sakit pun tak mampu merusaknya.

Sampai titik terakhirmu,
Kau tetap memilih hidup
Dengan cara paling indah
Yang pernah kutahu
Dan sampai titik terakhirku kelak
Namamu akan tetap jadi tempat
Aku pulang
Meski kau sudah tidak ada

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team