Kukira, cukup dengan mengeja nama
Aku mampu serukan sapa
Namun, kau buatku layaknya bisu
Kala parasmu hiasi netra
Jadi, kurapalkan tiap abjad berulang
Memastikan jutaan bagaimana jika
Agar hafalan tak lagi terbata
Dan rautku tak salah tanda baca
Lalu, kuberanikan diri menyebut nama
Ditemani degup yang kerap bertalu
Ironisnya, tak peduli lantangnya tutur
Melodi... nyatanya terhalang oleh derapmu
Barangkali, sapaku memanglah gaung
Terdengar, namun terlalu samar
Hingga telinga tak kenali aksara
Dan suaraku... mendadak hilang nada
