Sebut saja tangis
ketukan yang sampai
di telingamu pagi itu
Pagi yang membuatmu begitu lekas
menggantung cemas
yang berjam-jam sebelumnya
membungkus wajah
lalu menggantinya dengan rasa lepas
“Hidup kadang menuntut untuk selalu diingat
tapi engkau boleh melupakan semuanya
kecuali satu;
denyut rahim ibumu” pesanmu
sebelum azan pertama kuterima darimu
Segera setelahnya
jutaan pintu terbuka
berebut menawarkan diri untuk kulewati
“Tak ada jalan yang benar-benar lurus dan mulus
hanya runcing batu-batu
juga lembut petikan suara Tuhan
mengajarkanmu cara menemukan surga” katamu
sebelum duha habis dihisap zuhur
yang tergelar di atas kepala
|| 2014-2018 ||
![[PUISI] Sebut Saja Tangis](https://image.idntimes.com/post/20190410/arm-baby-child-87394-c2e5c2c07ed4e6befc6c3f47011bb23a.jpg)