Aku mengingatmu
Dengan cara yang tidak ingin kau tahu
Menunggu diam-diam
Di pojok paling sepi dari ruang percakapan yang kau tutup rapat
Blokir bukan pagar, tapi tembok
Yang kuterobos dengan sabar dan bodoh
Setahun
Bukan waktu, tapi luka yang menua tanpa pengobatan
Aku mengumpulkan harap dari detik yang lambat
Menjadikan Senin sebagai perayaan kecil
Mungkin hari ini kau buka pintu
Mungkin hari ini suaramu kembali seperti dulu
Tapi ternyata
Kau buka pintu untuk pria lain
Kau biarkan suaramu melengking
Bukan untuk memanggilku
Melainkan menertawakanku dari kejauhan
Tanpa kau sadari, aku masih berdiri
Di tempat yang pernah kau tinggalkan
Aku bisa menerima kau pergi
Aku bisa memaafkan sunyi yang kau hadiahkan
Tapi satu hal yang tidak
Kenapa kau mendekat ke dunia lain
Tanpa memalingkan wajah ke arahku
Yang masih berharap menjadi rumah?
Senin tak pernah salah
Yang bersalah adalah aku
Karena percaya
Bahwa cintamu seperti hujan di bulan Juni
Padahal lebih mirip badai di tengah kemarau
Datang tak tepat waktu
Pergi tanpa pamit
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Senin dan Luka yang Tak Pernah Janji Akan Sembuh
![[PUISI] Senin dan Luka yang Tak Pernah Janji Akan Sembuh](https://image.idntimes.com/post/20250810/pexels-cottonbro-4874400_59ce6fd5-b3fa-4037-b838-f9d589399048.jpg)
ilustrasi luka (pexels.com/cottonbro studio)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Curated For You
- [PUISI] Tatapan pada Langit06 Aug 2025, 05:04 WIB
- [PUISI] Manusia Tanpa Empati07 Aug 2025, 05:04 WIB
Editorial Team
EditorYudha
Related Article
[PUISI] Melintasi Langit Biru09 Sep 2026, 13:07 WIB
[PUISI] Melahap Asap 09 Sep 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Tanah yang Menyimpan Harapan09 Sep 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Orang yang Tak Pernah Dipahami08 Sep 2026, 21:27 WIB
[PUISI] Ketika Mimpi Terpecah08 Sep 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Antara Harap dan Ragu08 Sep 2026, 13:07 WIB
[PUISI] Logika yang Tak Mau Kalah08 Sep 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Dari Abu yang Masih Hangat08 Sep 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Terlalap Api07 Sep 2026, 20:27 WIB
[PUISI] Luka dan Sepi07 Sep 2026, 20:07 WIB
[PUISI] Koloni07 Sep 2026, 13:07 WIB
[PUISI] Tersingkir07 Sep 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Dunia Ribut Sendiri07 Sep 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Berlimpah untuk Siapa?06 Sep 2026, 21:17 WIB
[PUISI] Rasa yang Kujaga Tanpa Diminta06 Sep 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Tubuh yang Tidak Boleh Rubuh06 Sep 2026, 16:07 WIB
[PUISI] Bukan Rumah, Tapi Landasan Pacu06 Sep 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Tubuh yang Jiwanya Sudah Pergi06 Sep 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Resah Jiwa yang Masih Sendiri05 Sep 2026, 21:17 WIB
[PUISI] Harmoni Kedamaian05 Sep 2026, 21:07 WIB