Di antara ramai yang tak menegur,
aku duduk bersama sunyi yang enggan diam.
Ia berbicara tanpa suara,
namun menggema lebih keras dari keramaian.
Langkah-langkah lalu lalang tak berarti,
wajah-wajah datang tanpa benar melihat.
Aku ada, namun seperti hilang,
tertimbun riuh yang tak peduli.
Sepi ini terasa aneh—
ia tak pernah benar-benar hening,
justru sangat berisik oleh pikiran,
oleh setumpuk kenangan yang enggan menghilang.
Ada tawa yang dulu sempat singgah,
kini menjelma gema yang menusuk.
Ada nama yang pernah kusebut,
kini hanya sibuk berputar dalam kepala.
Aku berusaha memejamkan mata,
berharap sunyi ikut terlelap.
Namun ia tetap terjaga,
mengetuk dinding hati yang sudah retak.
Mungkin,
sepi bukan tentang sendiri,
melainkan kehilangan makna—
di tengah dunia yang tak menunggu
dan terus berlari.
![[PUISI] Sepi yang Berisik](https://image.idntimes.com/post/20260420/pexels-burst-373914_e830a8a0-209e-45c7-9786-7fe818d5c577.jpg)