aku ingin mencuri sepotong rindu
yang kau simpan di dadamu
sepotong saja; bila boleh lebih
aku juga ingin sepotong bibirmu
merah merekah—basah
betapa indah apabila sepotong
rindu dan bibirmu yang rekah
berhasil kucuri dan diam-diam kunikmati
dalam sunyi sambil memapar diksi-diksi
yang gemar bercinta dengan kata-kata
betapa pun kuingin mencuri
rupanya sepotong bibirmu
yang rekah telah kau berikan
sukarela pada gincu merah menyala
sedangkan sepotong rindu jadi abu
sebagaimana kau getarkan namanya
dalam dadamu aku pun disambar
seulas senyum getir:
malang nan menyedihkan
tak ada rindu yang bisa kucuri
sebab rindumu telah habis
kau pintal untuk sepotong bibir
yang berhasil kau curi
ketika aku buta dan dibutakan olehmu—kau pun buta olehnya
![[PUISI] Sepotong Rindu dan Juga Bibirmu](https://image.idntimes.com/post/20260503/shahin-khalaji-9f6cnxb8_oy-unsplash_52c25e23-5284-4bc9-b8c3-8243c3d75ddf.jpg)