Di menara kata yang dibangun dari buku-buku tebal
Kaum intelek meneguk kopi mengunyah teori
Lidahnya tajam bak pisau
Sedang tangan alergi pada luka di jalanan
Memuja logika seperti dewa berjas abu-abu,
Mengukur hidup dengan grafik
Nurani diparkir rapi
Diskusi berputar bagai kompas rusak
Utara kehilangan makna
Selatan wacana buram
Kebenaran dirias agar tampak objektif
Pun cermin lelah memantulkan dalih
![[PUISI] Sindiran Intelek](https://image.idntimes.com/post/20230618/pexels-andrea-piacquadio-3978388-d970b9a19a754cc9ecd9f9b6f7df74c6-87094c6b34658b5867a1172290de3ed8.jpg)