Di menara kata yang dibangun dari buku-buku tebal
Kaum intelek meneguk kopi mengunyah teori
Lidahnya tajam bak pisau
Sedang tangan alergi pada luka di jalanan
Memuja logika seperti dewa berjas abu-abu,
Mengukur hidup dengan grafik
Nurani diparkir rapi
Diskusi berputar bagai kompas rusak
Utara kehilangan makna
Selatan wacana buram
Kebenaran dirias agar tampak objektif
Pun cermin lelah memantulkan dalih
